BEIRUT – Eskalasi konflik di Lebanon selatan kembali memakan korban jiwa meski gencatan senjata masih berlaku. Sedikitnya 14 orang dilaporkan tewas, termasuk dua petugas pertahanan sipil, setelah serangkaian serangan udara Israel menghantam sejumlah wilayah di Distrik Nabatieh dan Tyre pada Selasa (12/05/2026).
Serangan terbaru itu memperlihatkan meningkatnya ketegangan di kawasan perbatasan Lebanon-Israel, di tengah upaya internasional menjaga kesepakatan penghentian tembak-menembak yang diperpanjang hingga 17 Mei 2026.
Kantor Berita Nasional Lebanon atau National News Agency (NNA) melaporkan serangan udara Israel menghantam sebuah rumah warga di Kota Kfar Dounine pada malam hari. Sedikitnya enam orang tewas dan tujuh lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Korban luka kemudian dilarikan ke rumah sakit di Kota Tyre untuk mendapatkan perawatan intensif. Selain itu, artileri Israel juga dilaporkan menembaki wilayah pinggiran Mansouri dan Majdal Zoun menjelang fajar.
Dalam insiden terpisah, seorang warga negara Suriah tewas sementara istrinya mengalami luka-luka setelah pesawat nirawak Israel menyerang sepeda motor yang mereka tumpangi di ruas Jalan Tayr Debba-Hammadiya, Distrik Tyre.
Dua petugas medis dari pusat pertahanan sipil regional Nabatieh turut menjadi korban jiwa saat melakukan evakuasi terhadap warga yang terluka akibat serangan sebelumnya. Satu petugas lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Dikutip dari Anadolu Agency, sebagaimana diwartakan Anadolu Agency, Rabu, (13/05/2026), serangan udara Israel juga menggempur sejumlah wilayah lain di Distrik Nabatieh, termasuk Zawtar al-Sharqiya, Nabatieh al-Fawqa, Kfartebnit, Jebchit, Qsaybeh, Harouf, hingga Kota Nabatieh.
Kota Jebchit menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak setelah dihantam lima serangan udara. Tiga orang dilaporkan tewas dan empat lainnya terluka dalam serangan di kawasan tersebut.
Militer Lebanon juga menyebut seorang tentaranya tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan negara itu.
Meski kesepakatan gencatan senjata telah diumumkan sejak 17 April 2026, baku tembak antara Israel dan kelompok Hizbullah masih terus terjadi hampir setiap hari. Kondisi ini memperlihatkan situasi keamanan di Lebanon selatan masih jauh dari stabil.
Data otoritas Lebanon menyebut sejak 2 Maret 2026, serangan Israel telah menyebabkan lebih dari 2.840 orang tewas dan sedikitnya 8.690 lainnya terluka. Konflik berkepanjangan itu juga memaksa lebih dari 1,6 juta warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Israel hingga kini dilaporkan masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan, termasuk area yang telah lama dikuasai maupun wilayah yang direbut selama konflik 2023–2024. Situasi tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya eskalasi perang di kawasan Timur Tengah apabila upaya diplomasi gagal menahan perluasan konflik. []
Redaksi05

