TEHERAN – Pemerintah Iran mengajukan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat (AS) dengan target mengakhiri konflik di Timur Tengah dalam waktu 30 hari. Proposal tersebut memuat tuntutan pencabutan sanksi hingga penghentian operasi militer yang melibatkan AS dan Israel di kawasan.
Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran melaporkan proposal 14 poin itu disusun sebagai respons atas rancangan sembilan poin yang sebelumnya diajukan Washington. Dalam usulan tersebut, Teheran meminta AS menghentikan seluruh bentuk permusuhan dan menarik pasukannya dari kawasan Timur Tengah.
Selain itu, Iran juga mendesak penghentian blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka serta menyerukan berakhirnya perang Israel di Lebanon.
Proposal itu dikirim Iran melalui Pakistan yang sebelumnya menjadi lokasi pertemuan tatap muka antara delegasi Iran dan AS pada April 2026.
Menurut laporan media semi-resmi Nour News, sebagaimana diberitakan Kompas, Minggu (03/05/2026), dokumen tersebut tidak memuat pembahasan rinci mengenai program nuklir Iran maupun uranium yang diperkaya, isu yang selama ini menjadi sumber utama ketegangan antara kedua negara.
Laporan Al Jazeera menyebut proposal Iran terdiri atas tiga tahap utama yang difokuskan pada penghentian perang secara permanen dalam kurun satu bulan. Salah satu poin penting dalam rencana itu ialah adanya jaminan non-agresi, termasuk dari Israel, guna memastikan konflik tidak kembali pecah di Timur Tengah.
Pada tahap awal, Iran menawarkan pembukaan bertahap Selat Hormuz dan pengakhiran blokade AS terhadap pelabuhan Iran. Dalam skema tersebut, Teheran disebut akan bertanggung jawab membersihkan ranjau laut di wilayah perairan strategis itu.
Sementara itu, laporan Axios menyebut proposal Iran juga menetapkan tenggat waktu satu bulan untuk mencapai kesepakatan awal. Setelah itu, negosiasi tambahan selama satu bulan dapat dilakukan untuk membahas isu program nuklir Iran apabila kesepakatan utama berhasil dicapai.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengaku tengah meninjau proposal terbaru yang diajukan Iran. Namun, ia masih meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dalam waktu dekat.
Trump bahkan menuliskan kritik terhadap Iran melalui media sosial dengan menyebut negara tersebut belum menerima konsekuensi yang cukup berat atas tindakan mereka selama puluhan tahun terakhir.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Washington mengenai penerimaan atau penolakan terhadap proposal damai yang diajukan Teheran tersebut. []
Redaksi05

