TEHERAN – Pemerintah Iran mulai membuka peluang diplomasi dengan mempertimbangkan proposal Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan perang yang selama ini memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah. Di tengah proses tersebut, Presiden AS Donald Trump juga mengeluarkan ancaman keras berupa serangan militer lanjutan apabila proposal perdamaian ditolak.
Proposal yang tengah dibahas disebut memuat 14 poin penting, termasuk penghentian pengayaan nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, hingga pemulihan jalur pelayaran bebas di Selat Hormuz. Kesepakatan awal itu disebut menjadi dasar negosiasi lanjutan antara kedua negara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, membenarkan bahwa usulan dari Washington masih dalam tahap peninjauan oleh Teheran. Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan media AS yang menyebut Gedung Putih optimistis kesepakatan damai semakin dekat.
“Usulan AS masih ditinjau oleh Iran dan setelah selesai, Iran akan memberitahukan pendapatnya kepada pihak Pakistan,” kata Ismail Baghaei kepada kantor berita ISNA, sebagaimana dilansir Kompas, Kamis, (07/05/2026).
Sebelumnya, laporan Axios menyebut pemerintah AS dan Iran hampir mencapai nota kesepahaman yang terdiri dari 14 poin. Memo satu halaman tersebut digambarkan sebagai kerangka awal untuk pembicaraan nuklir yang lebih luas di masa mendatang.
Selain penghentian pengayaan nuklir, proposal itu juga memuat rencana pencabutan sanksi terhadap Iran serta normalisasi jalur perdagangan internasional melalui Selat Hormuz yang selama perang menjadi titik rawan konflik.
Presiden Donald Trump mengklaim komunikasi antara Washington dan Teheran berlangsung sangat intens dalam 24 jam terakhir. Ia menilai peluang tercapainya kesepakatan kini semakin terbuka.
Namun, di saat yang sama, Trump memperingatkan Iran agar tidak menolak proposal tersebut. Ia bahkan mengancam operasi militer baru dengan intensitas lebih besar apabila kesepakatan gagal tercapai.
“Jika Iran tidak menyetujui kesepakatan, pengeboman akan dimulai, dan sayangnya, akan terjadi pada tingkat dan intensitas yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya,” tegas Trump.
Trump juga menyebut Operasi Epic Fury, yakni serangan awal gabungan AS-Israel terhadap Iran, akan dihentikan apabila Teheran menyetujui poin-poin yang telah dinegosiasikan.
Di sisi lain, parlemen Iran menunjukkan sikap keras terhadap tekanan Washington. Juru bicara Komisi Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran, Ebrahim Rezaei, menegaskan AS tidak akan memperoleh keuntungan tambahan melalui jalur negosiasi jika dibandingkan dengan hasil operasi militernya.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran siap memberikan respons keras apabila AS tidak memberikan konsesi yang dianggap perlu dalam pembicaraan damai tersebut.
Perkembangan diplomasi ini menjadi sorotan dunia internasional karena berpotensi menentukan arah stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur energi global dan aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz. []
Redaksi05
