WASHINGTON D.C. – Penolakan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap proposal perdamaian Iran memperbesar ketidakpastian berakhirnya konflik di Timur Tengah yang telah berlangsung selama 10 pekan. Penolakan itu juga memicu lonjakan harga minyak dunia dan memperburuk ancaman terhadap jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Iran sebelumnya mengajukan respons atas tawaran negosiasi dari AS dengan fokus pada penghentian perang di seluruh front, khususnya di Lebanon, serta jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Namun, Trump langsung menolak proposal tersebut melalui unggahan di media sosial.
“Saya tidak suka itu — SAMA SEKALI TIDAK BISA DITERIMA,” tulis Trump di Truth Social.
Kegagalan kedua negara mencapai titik temu membuat harga minyak dunia melonjak hingga US$3 per barel. Situasi tersebut memperkuat kekhawatiran pasar global terhadap terganggunya distribusi energi internasional.
Proposal Iran disebut memuat tuntutan kompensasi kerusakan perang, pengakuan kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz, penghentian blokade laut oleh AS, pencabutan sanksi, serta diakhirinya larangan ekspor minyak Iran. Informasi itu disampaikan kantor berita semi-resmi Tasnim sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (10/05/2026).
Sebelumnya, AS menawarkan penghentian pertempuran sebagai langkah awal sebelum memasuki pembahasan isu sensitif, termasuk program nuklir Iran. Media Wall Street Journal bahkan menyebut Iran membuka opsi pengenceran sebagian uranium berkadar tinggi dan memindahkan sisanya ke negara ketiga.
Seorang pejabat Pakistan mengatakan negaranya berperan sebagai mediator dengan meneruskan respons Iran kepada pemerintah AS.
Di tengah ketegangan tersebut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan pergerakan terbatas. Kapal pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) milik QatarEnergy dilaporkan berhasil melintasi selat menuju Pelabuhan Qasim, Pakistan. Pengiriman itu menjadi yang pertama sejak perang pecah pada 28 Februari 2026 lalu.
Iran juga mengizinkan kapal kargo berbendera Panama melintasi jalur pelayaran yang telah ditentukan militer Iran. Langkah itu dinilai sebagai upaya membangun kepercayaan dengan Pakistan dan Qatar yang turut terlibat dalam mediasi konflik.
Meski demikian, ancaman keamanan kawasan belum mereda. Beberapa negara Teluk melaporkan kemunculan drone bermusuhan dalam beberapa hari terakhir. Uni Emirat Arab mengaku mencegat dua drone dari Iran, sementara Qatar mengecam serangan drone terhadap kapal kargo di wilayah perairannya. Kuwait juga menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menangani drone yang memasuki wilayah udara negara tersebut.
Ketegangan turut meluas ke Lebanon selatan. Bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran kembali terjadi meski gencatan senjata yang dimediasi AS diumumkan pada 16 April 2026.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi terhadap Iran belum selesai. Ia menyebut masih ada “pekerjaan yang harus dilakukan” terkait pemindahan uranium yang diperkaya, pembongkaran fasilitas pengayaan, serta penanganan kemampuan rudal balistik Iran.
Netanyahu dalam wawancara dengan CBS News program 60 Minutes mengatakan diplomasi menjadi cara terbaik menyelesaikan persoalan tersebut, namun tidak menutup kemungkinan penggunaan tindakan paksa.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah terhadap tekanan asing.
“Iran tidak akan pernah tunduk kepada musuh,” tulis Pezeshkian melalui unggahan media sosial.
Tekanan politik terhadap Trump juga meningkat menjelang kunjungannya ke China pekan ini. Konflik berkepanjangan dinilai memperburuk krisis energi global dan memicu lonjakan harga bahan bakar di AS menjelang pemilu Kongres.
Di dalam negeri, Partai Demokrat di Kongres AS mendorong penghentian perang melalui legislasi War Powers Act. Senator AS Jack Reed menilai kebijakan Trump justru memperburuk situasi.
“Situasi ini menjadi jauh lebih buruk karena tindakan Donald Trump, dan sekarang dia tampak kebingungan mencari jalan keluar,” kata Reed kepada Fox News dalam program Sunday Morning Futures. []
Redaksi05

