Konflik Yaman Memanas, Serangan Udara Tewaskan 25 Warga

Konflik Yaman Memanas, Serangan Udara Tewaskan 25 Warga

Bagikan:

SANAA – Eskalasi perang saudara di Yaman kembali menimbulkan korban sipil setelah serangan udara menghantam permukiman di Desa Al-Shariya, sekitar 15 kilometer timur laut Sanaa, Sabtu. Sedikitnya 25 orang tewas dan 30 lainnya terluka, dengan perempuan dan anak-anak dilaporkan menjadi kelompok yang paling banyak terdampak.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Yaman yang berada di bawah pemerintahan kelompok Houthi, Anees Alasbahi, menuding Arab Saudi sebagai pihak yang melancarkan serangan tersebut. Namun, Associated Press (AP) belum dapat memverifikasi secara independen tuduhan itu. Kementerian Informasi Arab Saudi juga belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi yang disampaikan AP.

Alasbahi menyebut jumlah korban meninggal meningkat dari 22 orang dalam laporan awal menjadi sedikitnya 25 orang. Ia juga mengungkapkan masih terdapat warga yang tertimbun reruntuhan rumah akibat serangan tersebut.

Situasi semakin mengkhawatirkan karena, menurut Alasbahi, serangan susulan turut menyasar petugas penyelamat ketika mereka berupaya mengevakuasi korban dan mencari warga yang masih tertimbun. Kondisi tersebut berpotensi menghambat operasi penyelamatan serta memperbesar risiko jatuhnya korban tambahan.

Sebagaimana dilansir Associated Press, Sabtu (07/11/2026), rekaman televisi Al-Masirah yang dikelola Houthi memperlihatkan proses evakuasi sejumlah korban ke rumah sakit setempat. Sementara itu, gambar dari lokasi kejadian menunjukkan sejumlah rumah hancur dan warga berlindung di kawasan pertanian di sekitar permukiman.

Serangan di Al-Shariya menambah panjang daftar korban dalam konflik yang kembali memanas setelah kesepakatan gencatan senjata selama bertahun-tahun runtuh pada musim panas. Pertempuran kini kembali meningkat antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan kelompok lawan yang memperoleh dukungan Arab Saudi.

Sehari sebelum serangan di Al-Shariya, serangan udara juga menghantam sebuah pasar di wilayah selatan Yaman dan menewaskan sedikitnya 30 orang menurut pejabat Houthi. Kedua pihak yang bertikai saling menyalahkan atas insiden tersebut.

Konflik Yaman bermula pada 2014 ketika kelompok Houthi bergerak dari wilayah utara dan mengambil alih ibu kota Sanaa, sehingga pemerintahan yang diakui secara internasional tersingkir dari pusat kekuasaan. Arab Saudi kemudian membentuk koalisi untuk mendukung pemerintah tersebut dan melancarkan operasi militer selama bertahun-tahun.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan perang telah menewaskan sedikitnya 150.000 orang. Dampak konflik juga meluas akibat kelaparan dan wabah penyakit yang memperburuk krisis kemanusiaan di negara tersebut.

Setelah kesepakatan gencatan senjata pada 2022, situasi relatif lebih tenang selama beberapa waktu. Namun, ketegangan kembali meningkat ketika Houthi melancarkan serangan baru dengan alasan menanggapi blokade Arab Saudi terhadap wilayah yang mereka kuasai.

Kelompok tersebut juga memperluas penguasaan wilayah di sepanjang pesisir Laut Merah dan sejumlah pulau strategis di Selat Bab el-Mandeb. Serangan terhadap infrastruktur minyak, fasilitas militer, dan jalur pelayaran Arab Saudi turut meningkatkan risiko meluasnya konflik di kawasan.

Meningkatnya korban sipil dalam serangan terbaru memperlihatkan rapuhnya stabilitas keamanan Yaman. Tanpa penghentian permusuhan dan perlindungan terhadap warga sipil maupun petugas kemanusiaan, negara tersebut berisiko kembali terjerumus ke dalam krisis kemanusiaan yang lebih parah. []

Redaksi 01

Bagikan:
Internasional Perang