11 Negara ASEAN dan Rusia Teken Deklarasi Kazan, Dorong Tatanan Dunia Multipolar

11 Negara ASEAN dan Rusia Teken Deklarasi Kazan, Dorong Tatanan Dunia Multipolar

Bagikan:

Deklarasi Kazan dan tiga dokumen pendukung menjadi pedoman penguatan kerja sama Rusia dengan 11 negara ASEAN dalam bidang politik, ekonomi, energi, teknologi, pendidikan, dan kebudayaan hingga 2030.

KAZAN – Rusia dan 11 negara anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) mengadopsi Deklarasi Kazan serta tiga dokumen kerja sama lainnya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Peringatan Rusia-ASEAN di Kazan, Rusia, Kamis, 18 Juni 2026. Kesepakatan itu menjadi landasan penguatan kemitraan strategis di bidang politik, keamanan, ekonomi, energi, teknologi, pendidikan, dan kebudayaan hingga 2030.

KTT yang memperingati 35 tahun hubungan Rusia-ASEAN tersebut dipimpin bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. Filipina menjadi Ketua ASEAN pada 2026.

Seluruh negara anggota ASEAN mengirimkan delegasi dalam pertemuan itu, yakni Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, Timor-Leste, dan Vietnam. Indonesia diwakili Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono.

Dalam Deklarasi Kazan, Rusia dan ASEAN menegaskan komitmen untuk memperluas kemitraan strategis serta mendorong terbentuknya tatanan dunia multipolar yang adil berdasarkan hukum internasional dan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Deklarasi tersebut juga menekankan penghormatan terhadap kedaulatan, kesetaraan negara, prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri, serta hak setiap negara menentukan arah pembangunan dan mitra kerja samanya.

Selain Deklarasi Kazan, KTT Rusia-ASEAN mengadopsi Rencana Aksi Komprehensif untuk Melaksanakan Kemitraan Strategis ASEAN-Rusia 2026–2030, Pernyataan Bersama tentang Kerja Sama Energi, serta Pernyataan Bersama tentang Kerja Sama Kebudayaan.

Rencana aksi itu menjadi pedoman kerja sama selama lima tahun dalam bidang perdagangan, investasi, transportasi, pertanian, ketahanan pangan, energi, ilmu pengetahuan, teknologi informasi (TI), transformasi digital, pariwisata, pendidikan, dan hubungan antarmasyarakat.

Dalam bidang ekonomi, Putin mendorong pelaku usaha Rusia dan negara-negara ASEAN meningkatkan penggunaan mata uang nasional dalam transaksi perdagangan. Langkah tersebut dinilai dapat mempermudah pembayaran, menekan biaya transaksi, serta mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembayaran negara ketiga.

Rusia juga menawarkan peningkatan ekspor produk bernilai tambah, antara lain pupuk, obat-obatan, produk pertanian, baja, dan aluminium. Pada sektor energi, kedua pihak sepakat memperluas kerja sama dalam energi terbarukan, gas alam, gas alam cair, transisi energi, dan pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Perusahaan energi atom Rusia, Rosatom, menyatakan kesiapan menjajaki kerja sama pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan negara-negara ASEAN berdasarkan standar keselamatan dan perlindungan lingkungan.

Politolog Tatiana Kosacheva menilai Deklarasi Kazan dapat memperkuat hubungan ekonomi Rusia-ASEAN dengan memberikan kerangka hukum bagi perdagangan, investasi, logistik, dan transaksi keuangan.

“Ini berarti penghapusan hambatan perdagangan, dasar hukum langsung untuk mempermudah operasi logistik dan keuangan, pengurangan biaya untuk bisnis swasta, serta investasi langsung yang lebih aman tanpa perantara dari yurisdiksi tidak ramah,” jelasnya.

Kerja sama Rusia-ASEAN juga berkembang dalam bidang pendidikan dan pariwisata. Sekitar 5.000 mahasiswa asal negara-negara ASEAN tercatat menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi Rusia, termasuk melalui program beasiswa Pemerintah Rusia.

Sementara itu, jumlah wisatawan Rusia yang mengunjungi negara-negara Asia Tenggara pada 2025 disebut meningkat 37 persen. Pertumbuhan tersebut dinilai membuka peluang bagi penguatan konektivitas, promosi pariwisata, pertukaran budaya, dan peningkatan penerbangan langsung.

Meski demikian, implementasi kesepakatan menghadapi tantangan karena setiap negara ASEAN memiliki kebijakan luar negeri, hubungan keamanan, dan kepentingan perdagangan yang berbeda. Sejumlah negara anggota ASEAN juga mempunyai hubungan ekonomi yang kuat dengan Amerika Serikat (AS), China, Jepang, dan Uni Eropa (UE).

Peneliti Elena Pyltsina menilai Rusia berpotensi menjadi salah satu mitra penyeimbang bagi ASEAN di tengah persaingan kekuatan besar. Namun, Rusia dinilai belum dapat menggantikan peran China, AS, Jepang, atau UE sebagai mitra ekonomi utama kawasan Asia Tenggara.

Karena itu, kerja sama Rusia-ASEAN diperkirakan lebih cepat berkembang pada sektor yang menjadi keunggulan Rusia, seperti energi, pupuk, industri logam, ketahanan pangan, teknologi nuklir, pendidikan, serta teknologi informasi.

Deklarasi Kazan dan rencana aksi 2026–2030 diharapkan tidak berhenti sebagai komitmen politik, tetapi ditindaklanjuti melalui program terukur, peningkatan perdagangan, investasi langsung, pertukaran pendidikan, dan proyek bersama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Rusia dan negara-negara ASEAN. []

Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Agnes Wiguna

Bagikan:
Internasional