KUNAR – Ketegangan di perbatasan Afghanistan–Pakistan kembali meningkat setelah serangan lintas batas menghantam wilayah sipil di Provinsi Kunar, Afghanistan, yang menewaskan sedikitnya tujuh orang dan melukai 85 lainnya pada Senin (27/04/2026) waktu setempat.
Serangan yang disebut menggunakan mortir dan rudal itu dilaporkan menghantam ibu kota provinsi, Kota Asadabad, serta sejumlah kawasan permukiman, termasuk area pendidikan. Dampak paling parah dirasakan warga sipil, dengan korban terdiri dari perempuan, anak-anak, hingga mahasiswa.
“Serangan mortir dan rudal ini menghantam kawasan sipil,” ujar Wakil Juru Bicara Pemerintah Afghanistan Hamdullah Fitrat, sebagaimana dilansir The Guardian, Selasa, (28/04/2026).
Direktur Informasi dan Kebudayaan Kunar Najibullah Hanafi mengonfirmasi jumlah korban tewas mencapai tujuh orang, sementara sedikitnya 85 orang lainnya mengalami luka-luka. Kementerian Pendidikan Tinggi Afghanistan juga melaporkan sekitar 30 mahasiswa dan dosen menjadi korban luka akibat serangan yang mengenai Universitas Sayed Jamaluddin Afghani.
Kesaksian warga menggambarkan situasi mencekam saat serangan terjadi. Sahatullah, seorang warga, mengatakan keponakannya terluka ketika sedang bermain di luar rumah. “Dia sedang bermain di luar, dan tembakan artileri datang dan menghantam di sana,” katanya.
Seorang guru, Zmarai Kunari, turut kehilangan anggota keluarga dalam insiden tersebut. “Ini saudara saya. Dia terluka akibat tembakan artileri; dia pergi menjemput pamannya,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Pakistan membantah tuduhan serangan terhadap wilayah sipil. Melalui Kementerian Informasi, Pakistan menyatakan operasi yang dilakukan bersifat terarah dan tidak menyasar fasilitas sipil.
“Penargetan Pakistan tepat dan berdasarkan intelijen. Tidak ada serangan yang dilakukan terhadap Universitas Sayed Jamaluddin Afghan. Klaim tersebut tidak berdasar dan palsu,” demikian pernyataan resmi tersebut.
Insiden ini terjadi tidak lama setelah upaya perundingan damai yang dimediasi China pada awal April di Urumqi, yang sebelumnya menghasilkan komitmen kedua negara untuk menahan eskalasi konflik. Namun, kondisi di perbatasan masih tergolong rapuh.
Sejak akhir Februari 2026, bentrokan antara Afghanistan dan Pakistan dilaporkan telah menewaskan ratusan orang. Konflik ini dipicu tuduhan Pakistan terhadap Afghanistan yang disebut melindungi kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP), meski klaim tersebut dibantah pihak Kabul.
Sebelumnya, kedua negara juga sempat menyepakati gencatan senjata sementara saat Idul Fitri, tetapi bentrokan sporadis tetap terjadi. Situasi ini menunjukkan upaya perdamaian belum mampu meredam konflik secara menyeluruh.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) mencatat konflik berkepanjangan ini telah menyebabkan sekitar 94.000 orang mengungsi hingga awal April, menambah tekanan kemanusiaan di kawasan tersebut. []
Redaksi05

