BEIRUT – Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan jumlah korban jiwa akibat serangan militer Israel di wilayah Lebanon terus bertambah hingga mencapai 2.702 orang sejak konflik memanas pada 2 Maret 2026. Selain korban meninggal, sedikitnya 8.311 warga lainnya mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang masih berlangsung di sejumlah wilayah perbatasan.
Dalam laporan terbaru yang dirilis Selasa (05/05/2026), Kementerian Kesehatan Lebanon menyebut enam orang kembali tewas dalam serangan udara yang terjadi di kawasan Lebanon selatan. Serangan tersebut menyasar beberapa kota, termasuk wilayah pinggiran Tyre.
“Data akhir akibat agresi Israel dari 2 Maret hingga 5 Mei: 2.702 tewas dan 8.311 terluka,” demikian pernyataan Kementerian Kesehatan Lebanon, sebagaimana dilansir Antara, Selasa (05/05/2026).
Di tengah meningkatnya jumlah korban sipil, kelompok Hizbullah Lebanon juga mengklaim telah melancarkan 12 operasi tempur terhadap pasukan Israel di wilayah perbatasan. Serangan balasan itu disebut sebagai respons atas intensitas serangan udara dan artileri yang terus dilakukan Israel.
Sementara itu, upaya penghentian konflik sebelumnya sempat dilakukan melalui kesepakatan gencatan senjata. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada 16 April 2026 mengumumkan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sepakat memberlakukan gencatan senjata selama 10 hari yang kemudian diperpanjang hingga tiga pekan.
Namun, situasi keamanan di kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda. Meski kesepakatan penghentian sementara pertempuran telah diumumkan, serangan udara dan tembakan artileri dilaporkan masih terjadi hampir setiap hari di wilayah Lebanon selatan.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran meningkatnya korban sipil serta potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah apabila kedua pihak tidak segera mencapai kesepakatan damai permanen. []
Redaksi05

