TEHERAN – Ulama Iran Ahmad Khatami menegaskan rakyat Iran tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam khutbah salat Iduladha di Universitas Teheran pada Rabu (27/05/2026).
Dalam pidatonya, Khatami menyebut musuh Iran berharap masyarakat merasa lelah dan akhirnya menyerah terhadap tekanan politik maupun konflik yang berlangsung. Namun, menurut dia, harapan tersebut tidak akan tercapai karena rakyat Iran tetap menunjukkan perlawanan.
“Yang memalukan adalah tunduk kepada musuh, dan kami memohon kepada Allah agar dijauhkan dari hal itu. Kalian adalah bangsa yang bermartabat dan akan tetap demikian,” katanya, sebagaimana dilansir Viva, Kamis (28/05/2026).
Khatami juga melontarkan kritik keras kepada AS dan Presiden Donald Trump. Ia menuding pemerintah AS menjalankan pendekatan penuh tipu daya dalam hubungan dengan Iran, termasuk melalui jalur negosiasi.
“Musuh seharusnya sekali saja berkata jujur agar dunia bisa melihat apakah mereka memahami arti kejujuran atau tidak. Sifat Trump itu penuh tipu daya. Ia selalu menjalankan negosiasi dengan Iran melalui kelicikan dan kebohongan,” ujarnya.
Menurut Khatami, ketahanan masyarakat Iran terlihat dari aksi turun ke jalan yang berlangsung selama lebih dari 87 malam. Ia menilai kondisi tersebut menjadi bukti rakyat Iran tidak tunduk terhadap tekanan dari pihak luar.
Selain membahas hubungan Iran dengan AS dan Israel, Khatami turut menyinggung gerakan Flotilla of Steadfastness atau Armada Keteguhan yang membawa dukungan kemanusiaan bagi warga Gaza. Ia menyebut gerakan tersebut mencerminkan masih adanya solidaritas global terhadap rakyat Palestina.
“Mendukung rakyat tertindas adalah sebuah nilai, bahkan jika seseorang bukan Muslim,” ujarnya.
Khatami juga menuduh Israel dan Trump bertanggung jawab atas meningkatnya penderitaan di Gaza. Pernyataan itu muncul setelah militer Israel dilaporkan menyerang kapal bantuan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Siprus pada pekan lalu.
Media Israel, Yedioth Ahronoth, sebelumnya melaporkan para aktivis yang ditangkap dari kapal bantuan tersebut dipindahkan ke kapal angkatan laut sebelum dibawa ke Pelabuhan Ashdod di wilayah pendudukan Israel.
Hingga kini, konflik di Gaza masih berlangsung sejak pecah pada Oktober 2023 dan memicu krisis kemanusiaan berkepanjangan di wilayah tersebut. []
Redaksi05

