Gencatan Senjata Lebanon-Israel Terancam, 20 Orang Tewas dalam Serangan Terbaru

Gencatan Senjata Lebanon-Israel Terancam, 20 Orang Tewas dalam Serangan Terbaru

Bagikan:

NABATIEH – Gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat antara Lebanon dan Israel kembali berada dalam tekanan setelah sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas dan puluhan lainnya terluka akibat rangkaian serangan udara, pesawat nirawak, dan tembakan artileri Israel di wilayah selatan Lebanon, Jumat (05/06/2026).

Gelombang serangan yang menghantam sejumlah kota dan desa di Provinsi Nabatieh, Bint Jbeil, Tyre, dan Zahrani itu menambah kekhawatiran terhadap keberlangsungan kesepakatan penghentian konflik yang berlaku sejak 17 April 2026 dan diperpanjang hingga awal Juli 2026.

Berdasarkan laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (National News Agency/NNA), serangan terjadi di berbagai titik dalam satu hari dengan sasaran mencakup kawasan permukiman, kendaraan sipil, hingga area di sekitar fasilitas publik.

Di Distrik Tyre, tembakan artileri Israel di Borj Qalawieh dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai seorang lainnya. Sementara itu, serangan udara di Kota Doueir menewaskan empat orang dalam dua gelombang serangan yang menghantam lokasi yang sama.

Korban jiwa juga tercatat di sejumlah wilayah lain. Seorang pemuda tewas setelah kendaraan yang dikendarainya dihantam pesawat nirawak di Kfar Rumman. Serangan serupa terhadap sepeda motor di jalan Bir al-Salasil–Kfar Dounine, Distrik Bint Jbeil, menewaskan satu orang.

Tiga orang dilaporkan tewas di Adchit, sedangkan dua orang lainnya meninggal dunia dan dua korban lain mengalami luka-luka setelah serangan pesawat nirawak menghantam pusat Kota Marwaniyeh.

Serangan udara juga menghancurkan sebuah rumah di Kota Zefta. Seorang pria dilaporkan meninggal dunia, sementara putranya mengalami luka-luka. Di Zibdin, empat orang termasuk seorang petugas medis dilaporkan tewas akibat serangan udara.

Dampak serangan tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga merusak infrastruktur sipil. Sedikitnya 12 orang terluka ketika serangan menghantam area dekat Rumah Sakit Jabal Amel di Distrik Tyre. Sebuah bangunan milik Bank Audi juga dilaporkan roboh akibat serangan tersebut.

Tim pertahanan sipil Lebanon segera melakukan evakuasi terhadap korban dan membawa mereka ke sejumlah fasilitas kesehatan terdekat.

Selain melalui serangan udara, artileri Israel juga dilaporkan menggempur sejumlah wilayah lain, antara lain Kfar Rumman, Nabatieh al-Fawqa, Choukin, Mayfadoun, Borj Qalawieh, dan Deir Kifa.

Di tengah meningkatnya eskalasi, militer Israel mengklaim telah menewaskan Abd Harb yang disebut sebagai komandan unit teknik Hezbollah dalam operasi di Lebanon selatan pada pekan lalu. Namun, hingga kini tidak ada bukti yang dapat diverifikasi secara independen terkait klaim tersebut, sementara Hezbollah belum memberikan tanggapan resmi.

Perkembangan terbaru ini muncul saat upaya menjaga stabilitas kawasan masih berlangsung. Sebelumnya, Pemerintah Lebanon, Amerika Serikat, dan Israel menyepakati penghentian seluruh serangan Hezbollah terhadap Israel serta penarikan personel kelompok tersebut dari wilayah selatan Sungai Litani.

Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan Washington akan menentukan waktu dan mekanisme pelaksanaan kesepakatan itu. Namun, penolakan pemimpin Hezbollah Naim Qassem terhadap hasil pembicaraan Lebanon-Israel dinilai berpotensi memperbesar risiko kegagalan gencatan senjata.

Menurut data pemerintah Lebanon, lebih dari 3.550 orang tewas dan sekitar 10.800 lainnya terluka sejak konflik terbaru pecah pada awal Maret. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas keamanan di kawasan masih menghadapi tantangan besar meski berbagai upaya diplomasi terus dilakukan. Sebagaimana dilansir Akurat, Jumat, (05/06/2026). []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang