TEHERAN – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali mengguncang stabilitas kawasan Timur Tengah setelah serangan udara terbaru militer AS ke sejumlah target di wilayah Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi perang yang lebih luas.
Serangan yang dilancarkan pada Rabu (10/06/2026) malam waktu setempat terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menggempur Iran dengan keras apabila rancangan perjanjian damai tidak segera disepakati. Operasi tersebut menandai runtuhnya gencatan senjata yang sebelumnya sempat berlaku pada awal April 2026.
Komando Sentral Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan dimulai pada pukul 17.15 waktu Washington atau sekitar pukul 00.45 waktu Teheran. Militer AS menyebut operasi itu sebagai respons terhadap tindakan agresif Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Sementara itu, kantor berita Mehr melaporkan ledakan terdengar di Kota Sirik, salah satu wilayah pelabuhan strategis Iran. Sistem pertahanan udara (air-defense) juga dilaporkan aktif di kawasan barat Teheran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan negaranya siap meningkatkan tekanan militer terhadap Iran apabila jalur diplomasi tidak menghasilkan kesepakatan.
“Kami akan memukul mereka dengan sangat keras malam ini, dan kami berharap Iran mengambil keputusan yang tepat,” ujar Pete Hegseth saat mengunjungi markas CENTCOM di Florida sebagaimana dilansir Kontan, Rabu (10/06/2026).
“Jika kami harus bernegosiasi menggunakan bom, maka kami akan bernegosiasi dengan bom.”
Ketegangan kedua negara meningkat setelah serangkaian aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir. Sebelumnya, militer AS menyerang radar pertahanan Iran di dekat Selat Hormuz sebagai respons atas jatuhnya helikopter Apache milik AS. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain.
Di tengah konflik tersebut, Iran menuding AS melakukan pelanggaran hukum internasional setelah sebuah fasilitas waduk yang memasok air bersih ke sejumlah desa dilaporkan terdampak serangan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghei, menyampaikan kecaman keras terhadap tindakan Washington.
“Ini bukan dampak kerusakan tidak sengaja (collateral damage). Ini adalah kejahatan perang yang direncanakan dan pelanggaran nyata terhadap hak asasi manusia,” tegas Baghei.
Peringatan lebih keras juga disampaikan Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi. Ia menilai konflik berpotensi meluas apabila serangan AS terus berlanjut.
Di sisi lain, upaya diplomasi masih berlangsung. Delegasi Qatar dilaporkan telah tiba di Teheran untuk menjajaki kemungkinan pembukaan dialog darurat antara kedua negara.
Selain memicu ketegangan keamanan, konflik yang telah berlangsung selama sekitar tiga bulan itu juga berdampak pada pasar energi global. Ancaman serangan lanjutan mendorong harga minyak mentah dunia melonjak hampir US$3 hingga mendekati level US$94 per barel.
Trump juga mengungkap adanya operasi militer rahasia di Selat Hormuz yang diklaim berhasil mengawal kapal tanker pembawa sekitar 100 juta barel minyak melewati jalur tersebut tanpa terdeteksi radar Iran. Menurut Trump, operasi itu membantu mencegah lonjakan harga minyak ke tingkat yang lebih ekstrem.
Dalam perkembangan lain, Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional atau International Atomic Energy Agency (IAEA) yang beranggotakan 35 negara menyetujui resolusi yang meminta Iran membuka akses lebih luas bagi inspektur internasional untuk memverifikasi persediaan uranium yang diperkaya. Namun, pemerintah Iran menolak resolusi tersebut dan menyebutnya sebagai langkah yang bermotif politik.
Dengan masih berlangsungnya bentrokan antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon selatan yang didukung Iran, situasi kawasan Timur Tengah kini menghadapi tekanan keamanan yang semakin kompleks. Sejumlah pihak internasional mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi guna mencegah konflik berkembang menjadi krisis global yang lebih besar. []
Redaksi05

