MOSKOW – Gelombang serangan pesawat nirawak (drone) Ukraina yang menghantam wilayah Krimea dan sejumlah kawasan Rusia memicu gangguan pada sektor transportasi serta energi. Otoritas setempat terpaksa memangkas jadwal kereta malam, mengevakuasi penumpang, hingga menghadapi kebakaran di sejumlah fasilitas strategis, termasuk kilang minyak.
Serangan terbaru terjadi pada Rabu (10/06/2026) ketika sebuah drone menghantam area Museum Panorama Pertahanan Sevastopol 1854-1855 di Kota Sevastopol, Krimea. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran pada bagian atap bangunan yang menjadi salah satu simbol sejarah Rusia.
Gubernur Sevastopol yang ditunjuk Rusia, Mikhail Razvozhayev, mengatakan bangunan museum mengalami kerusakan akibat serangan tersebut.
“Pesawat tak berawak itu merusak bangunan Panorama ‘Pertahanan Sevastopol 1854-1855’ [lukisan], atapnya terbakar,” katanya.
Menurut Razvozhayev, museum tersebut memiliki nilai historis penting karena merekam perjuangan Rusia dalam Perang Krimea pada 1853-1856.
“Bangunan ini bukan hanya museum, tetapi juga simbol ketahanan, yang telah berulang kali menerima pukulan musuh.”
Ia juga mengingatkan bahwa bangunan tersebut pernah menjadi sasaran serangan udara selama Perang Dunia II.
“Musuh akan membayar atas penistaan ini!”
Layanan darurat, termasuk Kementerian Darurat Rusia dan Layanan Penyelamatan Sevastopol, segera dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan api dan mengamankan area terdampak.
Di saat bersamaan, otoritas Krimea mengurangi jadwal perjalanan kereta malam menyusul serangan drone yang menghantam kereta penumpang rute Moskow-Simferopol beberapa hari sebelumnya. Insiden itu mengakibatkan seorang asisten masinis meninggal dunia dan masinis mengalami luka-luka.
Gubernur Krimea, Sergei Aksyonov, mengonfirmasi serangan tersebut mengenai lokomotif kereta.
“Asisten masinis tewas dan masinis terluka. Penumpang tidak terluka,” kata Aksyonov sebagaimana dilansir Sindonews, Kamis (11/06/2026).
Akibat kejadian itu, delapan perjalanan kereta penumpang dihentikan sementara dan seluruh penumpang dievakuasi menggunakan bus menuju Simferopol serta Sevastopol.
Serangan yang terus berlanjut juga mulai memengaruhi distribusi energi di Krimea. Sejumlah laporan lokal menyebutkan penjualan bahan bakar komersial kepada masyarakat dibatasi secara ketat. Distribusi bahan bakar diprioritaskan untuk layanan darurat dan pengguna yang memperoleh kuota khusus dari pemerintah.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan sistem pertahanan udara negara itu berhasil mencegat 326 drone Ukraina dalam satu malam. Lebih dari selusin di antaranya dilaporkan mengarah ke Moskow.
Di wilayah Samara, serangan drone juga mengancam fasilitas energi penting Rusia. Otoritas setempat menyatakan upaya penanggulangan berhasil dilakukan, meskipun saluran pemantauan sumber terbuka (open source intelligence/OSINT) Rusia, Astra, melaporkan Kilang Minyak Kuibyshevsk mengalami kebakaran setelah diserang puluhan drone.
Selain Samara, kebakaran akibat puing-puing drone juga dilaporkan terjadi di wilayah Rostov, sementara dua fasilitas industri terbakar di wilayah Vladimir. Peringatan serangan udara turut diberlakukan di sejumlah daerah penghasil minyak dan kawasan industri Rusia lainnya.
Di tengah meningkatnya serangan, upaya diplomasi antara Rusia dan Ukraina masih menemui jalan buntu. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebelumnya mengusulkan pertemuan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, namun usulan tersebut ditolak Moskow. Kremlin bahkan menilai serangan terhadap infrastruktur sipil dan transportasi telah mengganggu peluang penyelesaian damai yang tengah diupayakan.
Rangkaian serangan ini menunjukkan bahwa konflik Rusia-Ukraina tidak hanya berdampak pada sektor militer, tetapi juga mulai menekan aktivitas transportasi publik, distribusi energi, dan operasional fasilitas strategis di berbagai wilayah Rusia. []
Redaksi05

