HALMAHERA BARAT – Aktivitas vulkanik Gunung Ibu di Provinsi Maluku Utara kembali meningkat setelah terjadi erupsi pada Jumat (12/06/2026) pukul 07.45 Waktu Indonesia Timur (WIT). Dalam kurun sepekan terakhir, gunung api tersebut tercatat telah mengalami 37 kali letusan sehingga otoritas vulkanologi meminta masyarakat tetap membatasi aktivitas di area rawan.
Data Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia menunjukkan kolom abu saat erupsi mencapai ketinggian 400 meter di atas puncak atau sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik terpantau berwarna kelabu dengan intensitas tebal mengarah ke sisi barat.
Aktivitas letusan terekam melalui seismograf dengan amplitudo maksimum 28 milimeter dan durasi sekitar 45 detik. Berdasarkan laporan aktivitas gunung api, status Gunung Ibu saat ini masih berada pada Level II (Waspada).
Pengamatan kegempaan sepanjang Jumat, 12 Juni 2026 pukul 00.00–23.59 WIT mencatat sebanyak 91 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10–28 milimeter dan durasi 37–88 detik. Selain itu, terdeteksi empat kali gempa hembusan dengan amplitudo 3–8 milimeter dan durasi 37–55 detik, serta sembilan kali gempa harmonik dengan amplitudo 2–28 milimeter dan durasi 58–167 detik.
PVMBG mengimbau masyarakat yang berada di sekitar Gunung Ibu maupun pengunjung dan wisatawan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Pembatasan juga diberlakukan pada sektor utara dengan perluasan hingga 3,5 kilometer dari bukaan kawah.
Tren aktivitas vulkanik nasional sepanjang 2026 menunjukkan frekuensi erupsi yang masih tinggi. Berdasarkan data MAGMA Indonesia, sebagaimana dilansir Kompas pada Jumat, (12/06/2026), tercatat 2.568 kejadian letusan gunung api di Indonesia. Gunung Semeru di Provinsi Jawa Timur menjadi gunung dengan frekuensi erupsi tertinggi sebanyak 1.238 kali, sementara Gunung Ibu tercatat mengalami 905 kali erupsi sepanjang tahun berjalan. []
Redaksi05

