MOSKOW – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai kemungkinan pengambilalihan Selat Hormuz kembali memanaskan dinamika hubungan Washington dan Teheran di tengah upaya kedua negara menyelesaikan berbagai isu strategis melalui jalur diplomasi.
Trump menyatakan AS dapat mengambil alih pengelolaan Selat Hormuz dan memberlakukan tarif pelayaran guna menjamin keamanan jalur perdagangan energi dunia. Pernyataan tersebut disampaikan saat perundingan teknis antara Iran dan AS yang dimediasi Qatar dan Pakistan berlangsung di Swiss pada Minggu (21/06/2026).
“Kami mungkin akan mengambil alih selat itu jika perlu,” kata Trump.
“Jika mereka tidak membuat kesepakatan, kami akan mengenakan tarif lintas,” katanya, menambahkan.
Trump juga menyebut dalam skenario tersebut AS berpotensi mengambil 20 persen dari minyak yang diangkut melalui Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang menjadi penghubung utama ekspor minyak dari kawasan Teluk.
Pernyataan itu muncul ketika proses negosiasi antara Iran dan AS masih berlangsung. Sebelumnya, Trump juga menyampaikan bahwa apabila kesepakatan damai dengan Iran tidak tercapai, Washington dapat memberlakukan biaya lintas di Selat Hormuz sebagai bentuk kompensasi atas biaya yang telah dikeluarkan AS untuk menjaga keamanan kawasan.
Di sisi lain, Iran dan AS diketahui telah menandatangani memorandum pada 18 Juni 2026 yang mengakhiri konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Dokumen tersebut memuat sejumlah kesepakatan, termasuk tenggat waktu pencabutan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran oleh AS serta jadwal pemulihan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran.
Perundingan yang tengah berlangsung di Swiss menjadi bagian dari upaya kedua negara untuk memastikan implementasi kesepakatan berjalan sesuai rencana. Namun, pernyataan terbaru Trump berpotensi menambah tekanan dalam proses diplomasi yang masih berlangsung.
Informasi mengenai pernyataan Trump dan perkembangan perundingan tersebut sebagaimana dilansir Antara, Senin (22/06/2026). Pengamat menilai stabilitas Selat Hormuz akan tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi keamanan kawasan Timur Tengah dan pergerakan pasar energi global dalam beberapa waktu ke depan. []
Redaksi05

