Trump Klaim Belum Ada Bukti Rudal AS Hantam Sekolah di Iran

Trump Klaim Belum Ada Bukti Rudal AS Hantam Sekolah di Iran

Bagikan:

WASHINGTON DC – Pemerintah Amerika Serikat (AS) hingga kini belum menyimpulkan hasil investigasi terkait dugaan keterlibatan militernya dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Kota Minab, Iran, yang menewaskan ratusan orang. Di tengah tekanan politik yang terus meningkat, Presiden AS Donald Trump menegaskan belum ada bukti yang menunjukkan rudal negaranya digunakan dalam insiden tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Rabu (24/06/2026). Ia merespons tuduhan yang mengaitkan militer AS dengan serangan terhadap sekolah di Minab yang terjadi pada hari pertama pecahnya perang.

“Itu mengerikan, tetapi rudal beterbangan ke mana-mana, dan seseorang mengatakan itu rudal kami. Mungkin saja bukan rudal kami,” kata Trump.

Trump menyatakan dirinya belum melihat bukti yang dapat memastikan rudal yang menghantam sekolah tersebut berasal dari AS. Karena itu, pemerintahannya masih menunggu hasil penyelidikan resmi sebelum mengambil kesimpulan.

Untuk menjelaskan perkembangan penyelidikan, Trump kemudian meminta Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang berada di Ruang Oval memberikan tanggapan terkait kasus tersebut.

Hegseth menegaskan investigasi masih berlangsung dan pemerintah AS menangani perkara itu secara serius. Menurutnya, hasil penyelidikan akan diumumkan setelah seluruh proses pemeriksaan selesai dilakukan.

Sampai saat ini, pemerintah AS belum mengakui adanya keterlibatan langsung dalam tragedi yang menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar tersebut.

Berdasarkan laporan media pemerintah Iran, serangan terhadap sekolah putra dan putri di Minab pada 28 Februari 2026 menyebabkan sedikitnya 155 korban meninggal dunia. Korban terdiri atas 73 siswa laki-laki, 47 siswa perempuan, 26 guru, tujuh orang tua murid, seorang sopir bus sekolah, serta satu warga sipil lainnya.

Sebelumnya, Trump juga pernah menyampaikan kemungkinan sekolah tersebut terkena serangan dari pihak Iran sendiri. Ia beralasan Iran dinilai tidak memiliki tingkat akurasi yang baik dalam penggunaan sistem persenjataan.

Meski demikian, sejumlah media internasional melaporkan dugaan keterlibatan AS dalam insiden tersebut. Harian The New York Times menyebut sekolah itu diduga terkena rudal jelajah Tomahawk, jenis senjata yang tidak dimiliki Iran. Sementara itu, CNN juga melaporkan bahwa serangan tersebut dilakukan oleh AS.

Di sisi lain, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command/CENTCOM), Brad Cooper, sebelumnya menyampaikan kepada Kongres bahwa hasil investigasi akan dipublikasikan setelah penyelidikan yang kompleks itu rampung.

Kasus ini turut memicu dinamika politik di Washington DC. Sejumlah anggota Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS mengajukan proses pemakzulan terhadap Hegseth pascaserangan tersebut. Tekanan juga datang dari anggota Demokrat di Senat yang mengancam memblokir anggaran perjalanan Hegseth hingga laporan investigasi korban sipil yang belum disensor diserahkan kepada parlemen.

Perkembangan investigasi ini menjadi perhatian internasional karena berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik dan keamanan kawasan. Pemerintah AS masih menunggu hasil akhir penyelidikan untuk memastikan pihak yang bertanggung jawab atas serangan mematikan tersebut, sebagaimana dilansir Kompas, Rabu (25/06/2026). []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang