VEF 2026: 80 Negara Hadir, Putin dan Pemimpin Asia Bahas Ekonomi

VEF 2026: 80 Negara Hadir, Putin dan Pemimpin Asia Bahas Ekonomi

Bagikan:

Forum Ekonomi Timur ke-11 menyoroti meningkatnya peran kawasan Timur Jauh sebagai pusat investasi, industri, logistik, dan jalur strategis perdagangan Rusia menuju negara-negara Asia.

VLADIVOSTOK – Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum/EEF) ke-11 menegaskan semakin strategisnya kawasan Timur Jauh Rusia sebagai jalur perdagangan, investasi, dan logistik menuju Asia. Forum yang berlangsung di Vladivostok, Rusia, pada 1–4 September 2026 itu mempertemukan perwakilan pemerintah, dunia usaha, dan pakar internasional untuk membahas pengembangan kawasan di tengah meningkatnya orientasi ekonomi Rusia ke pasar Asia.

Forum yang digelar di kampus Universitas Federal Timur Jauh tersebut membahas sejumlah isu utama, mulai dari investasi, pengembangan industri dan teknologi, hingga peningkatan kapasitas infrastruktur serta logistik.

Penasihat Presiden Rusia sekaligus Sekretaris Eksekutif Panitia Penyelenggara EEF Anton Kobyakov mengatakan kerja sama internasional yang berlandaskan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama semakin penting di tengah perubahan tatanan dunia.

“Di Vladivostok, kita menyambut tamu dari berbagai negara dengan model ekonomi, kepentingan, dan pendekatan pembangunan yang berbeda-beda. Hal ini menciptakan peluang untuk berdialog secara terbuka dan profesional serta mencari titik temu dalam berbagai isu—mulai dari perdagangan dan investasi hingga teknologi dan logistik,” ujarnya.

Menguatnya partisipasi internasional dalam EEF berjalan seiring dengan perubahan orientasi hubungan ekonomi Rusia. Timur Jauh semakin diposisikan sebagai salah satu pintu utama perdagangan luar negeri negara tersebut, khususnya untuk menjangkau pasar Asia.

Ekonom Vasily Koltashov menilai peningkatan arti penting EEF berkaitan erat dengan semakin kuatnya hubungan perdagangan Rusia dengan negara-negara Asia.

“Pentingnya Forum Ekonomi Timur terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang menjadi sangat signifikan karena Rusia semakin banyak berdagang melalui hubungan dengan negara-negara Asia Tenggara, Tiongkok, dan India,” jelas sang pakar.

Perubahan orientasi perdagangan tersebut turut meningkatkan peran ekonomi kawasan Timur Jauh. Pelabuhan, galangan kapal, jaringan transportasi, dan industri manufaktur tidak lagi hanya menjadi pendukung ekspor, tetapi berkembang sebagai bagian penting dari struktur produksi Rusia.

“Nilai industri manufaktur di Timur Jauh terus meningkat, demikian pula signifikansi transportasi kawasan ini,” tambah Koltashov.

Kondisi itu membuat investasi dan pengembangan infrastruktur menjadi bagian penting dalam agenda EEF. Peningkatan kapasitas transportasi, pembangunan fasilitas produksi baru, serta penciptaan iklim investasi jangka panjang dinilai diperlukan untuk menopang peningkatan aktivitas ekonomi kawasan.

“Masalah penanaman modal, pembangunan infrastruktur, dan berbagai tantangan lainnya kini menjadi semakin penting,” tegas Vasily Koltashov.

Selain memiliki nilai ekonomi, pengembangan infrastruktur Timur Jauh juga dipandang strategis bagi ketahanan jalur perdagangan luar negeri Rusia. Menurut Koltashov, kawasan tersebut memiliki posisi penting sebagai jalur distribusi barang di tengah perubahan situasi geopolitik internasional.

“Arah utama dan teraman bagi Rusia saat ini adalah jalur pasokan barang melalui Timur Jauh,” ungkap sang pakar.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan jalur perdagangan Rusia melalui kawasan Laut Hitam dan Laut Baltik.

“Berbeda dengan Laut Hitam dan Laut Baltik, di sini tidak ada ancaman blokade terhadap Rusia. Situasi bagi Rusia di kawasan ini jauh lebih stabil,” ujarnya.

EEF ke-11 mengangkat tema “Timur Jauh—Pembangunan untuk Kesejahteraan Rakyat”. Selama empat hari penyelenggaraan, forum membahas pembangunan regional, kerja sama investasi, teknologi, logistik, infrastruktur, serta penguatan hubungan ekonomi internasional.

Sidang paripurna pada Kamis (3/9/2026) mempertemukan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto, Perdana Menteri Mongolia Nyam-Osoryn Uchral, Wakil Presiden Myanmar Nyo Saw, serta Wakil Perdana Menteri Dewan Negara Tiongkok Ding Xuexiang.

Selain pertemuan bisnis dan diskusi, rangkaian EEF mencakup program kepemudaan serta sejumlah proyek tematik internasional. Penyelenggara juga menghadirkan pameran “Jalan Timur Jauh” sebagai ruang bagi daerah-daerah di kawasan tersebut untuk menampilkan potensi ekonomi, pariwisata, dan budaya.

Kobyakov berharap forum tersebut dapat terus menjadi ruang bagi negara-negara dengan kepentingan dan model pembangunan berbeda untuk membangun kerja sama internasional.

“Saya yakin Forum tahun ini akan menjadi wadah untuk membangun sistem dialog internasional yang berlandaskan pada kemakmuran bersama dan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat,” pungkas Anton Kobyakov.

Melalui EEF, Rusia berupaya memperkuat posisi Timur Jauh tidak hanya sebagai pintu perdagangan menuju Asia, tetapi juga sebagai pusat investasi, industri, transportasi, dan konektivitas internasional yang semakin penting dalam strategi ekonomi negara tersebut. []

Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Agnes Wiguna

Bagikan:
Headlines Internasional