Penguatan deteksi dini dan kemampuan guru menjadi bagian dari upaya SMPN 6 Kintamani membangun lingkungan belajar yang lebih responsif bagi peserta didik dengan risiko disleksia.
BANGLI – SMPN 6 Kintamani memperkuat kemampuan sekolah dalam mengenali peserta didik yang berisiko mengalami disleksia melalui penggunaan instrumen skrining, bahan bacaan ramah disleksia, serta pelatihan bagi tenaga pendidik yang dikembangkan bersama Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja.
Program tersebut tidak hanya menyediakan perangkat pembelajaran, tetapi juga diarahkan pada peningkatan kemampuan sekolah dalam melakukan identifikasi dan intervensi dini sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik.
Akademisi Undiksha I Ketut Trika Adi Ana mengatakan kolaborasi dengan sekolah akan dilanjutkan melalui pelatihan dan penelitian secara berkala untuk menemukan persoalan pembelajaran sekaligus menentukan penanganan yang sesuai, sebagaimana diberitakan Antara, Kamis, (24/09/2026).
“Kolaborasi ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan melalui pelatihan dan penelitian yang dijadwalkan secara rutin bersama pihak sekolah sehingga setiap permasalahan dapat diidentifikasi dan diselesaikan bersama,” kata akademisi Undiksha I Ketut Trika Adi Ana di Singaraja, Bali, Kamis.
Dalam kerja sama tersebut, perangkat pembelajaran diserahkan kepada Dinas Pendidikan Kabupaten (Disdik) Bangli yang diwakili Pengawas Sekolah Ni Wayan Riani serta Kepala SMPN 6 Kintamani I Wayan Mustapayasa.
Perangkat yang disiapkan meliputi buku pedoman sekolah ramah disleksia, instrumen skrining, panduan penggunaan huruf TrikaIndoDyslexic, TrikaIndoDyslexic Flashcard, TrikaIndoDyslexic Alphabet Board, panduan CINTA Boardgame untuk mengenalkan jenis anak berkebutuhan khusus, serta dua buku contoh bahan bacaan ramah disleksia.
Pelatihan juga diberikan untuk membantu sekolah mengembangkan bahan bacaan yang lebih mudah digunakan peserta didik dengan disleksia. Pengembangannya menggunakan pendekatan multisensori yang memadukan unsur taktil, repetisi, imajinatif, kinestetik, dan auditori.
Trika menjelaskan perangkat tersebut tidak dibuat sebagai paket yang kaku. Sekolah dapat menyesuaikan penggunaannya berdasarkan persoalan dan karakteristik peserta didik yang ditemukan selama proses pembelajaran.
“Sejauh ini saya telah mengembangkan sekitar 25 perangkat penunjang sekolah ramah disleksia. Perangkat tersebut akan diserahkan dan dijelaskan secara bertahap sesuai kebutuhan sekolah,” ujarnya.
Pendekatan tersebut membuat penguatan sekolah ramah disleksia tidak berhenti pada penyediaan alat pembelajaran. Pelatihan, pendampingan, dan penelitian berkala menjadi bagian dari proses agar tenaga pendidik dapat memahami kebutuhan belajar siswa serta menentukan bentuk intervensi yang tepat.
Kepala SMPN 6 Kintamani I Wayan Mustapayasa menyampaikan komitmen sekolah untuk secara bertahap membangun lingkungan belajar ramah disleksia dengan melibatkan tenaga pendidik dan kependidikan, terutama guru bimbingan dan konseling (BK).
Sekolah juga akan mengoptimalkan Program Bintang Kelas sebagai ruang untuk memberikan perhatian dan pendampingan kepada peserta didik yang membutuhkan dukungan khusus dalam proses belajar.
Selain menjalankan program di lingkungan sekolah, SMPN 6 Kintamani menyatakan kesiapan membantu Disdik Bangli menyebarluaskan pengalaman pelaksanaan program kepada satuan pendidikan lainnya. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas penerapan pembelajaran yang lebih responsif terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik. []
Redaksi08.

