RSUDZA Tekankan Keselamatan Pasien bagi 123 Peserta Pendidikan Dokter

RSUDZA Tekankan Keselamatan Pasien bagi 123 Peserta Pendidikan Dokter

Bagikan:

Sebanyak 123 peserta pendidikan dokter spesialis, subspesialis, dan Fellowship Angkatan II Tahun 2026 mulai menjalani tahap pendidikan klinis di RSUD dr. Zainoel Abidin dengan penekanan pada kompetensi, etika, dan keselamatan pasien.

BANDA ACEH – Keselamatan pasien menjadi perhatian utama dalam pendidikan klinis 123 peserta program pendidikan dokter spesialis, subspesialis, dan Fellowship Angkatan II Tahun 2026 Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) yang menjalani pendidikan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.

Direktur RSUDZA Muhazar Harun mengatakan peserta didik sejak awal memasuki lingkungan rumah sakit rujukan utama Aceh harus memahami bahwa proses pendidikan berjalan bersamaan dengan tanggung jawab terhadap mutu pelayanan pasien.

“Pada tahap awal memasuki pendidikan klinis di rumah sakit rujukan utama Aceh dengan penekanan pada kompetensi, integritas, dan keselamatan pasien,” kata Direktur RSUDZA Muhazar Harun di Banda Aceh, Minggu, sebagaimana diberitakan Antara, Minggu, (27/09/2026).

Ia menjelaskan peserta pendidikan tidak hanya dituntut menguasai ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga perlu memiliki etika, kemampuan komunikasi, empati, serta tanggung jawab profesional ketika memberikan pelayanan kepada pasien.

“Sejak hari pertama berada di RSUDZA, peserta didik adalah bagian dari sistem pelayanan rumah sakit. Setiap keputusan, komunikasi, pencatatan, dan tindakan dapat mempengaruhi mutu pelayanan serta keselamatan pasien,” katanya.

Sebagai rumah sakit rujukan sekaligus rumah sakit pendidikan utama di Aceh, RSUDZA menjadi tempat peserta didik menghadapi beragam kasus kompleks dan pasien dengan latar belakang yang berbeda.

Kondisi tersebut membuat peserta didik diminta menjalankan setiap tindakan berdasarkan kompetensi dan kewenangan klinis yang dimiliki serta mengikuti jenjang supervisi yang berlaku.

Muhazar juga meminta peserta didik tidak ragu berkonsultasi apabila menghadapi kondisi di luar kemampuan mereka selama menjalani pendidikan klinis.

“Meminta bantuan bukan tanda kelemahan, tetapi bentuk profesionalisme dan tanggung jawab kepada pasien,” katanya.

Selain kemampuan klinis, peserta didik juga diminta menjaga etika, komunikasi, kerahasiaan medis, dan martabat pasien selama berada di lingkungan RSUDZA.

Rumah sakit juga menekankan perlunya lingkungan pendidikan yang aman dan saling menghormati, termasuk menghindari perundungan serta budaya senioritas yang tidak mendukung proses pembelajaran.

Para supervisor, Ketua Kelompok Staf Medis (KSM), konsultan, dan tenaga pendidik klinis diminta memberikan bimbingan secara konsisten, adil, dan manusiawi. Peserta didik juga diingatkan agar proses pendidikan tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar jumlah kasus atau memenuhi logbook.

“Setiap pasien adalah amanah, bukan sekadar objek pembelajaran,” tegasnya.

RSUDZA bersama Fakultas Kedokteran USK selanjutnya berkomitmen memperkuat integrasi pendidikan, pelayanan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai bagian dari proses pembentukan dokter spesialis dan subspesialis yang kompeten serta berintegritas.

Orientasi Angkatan II Tahun 2026 tersebut menjadi tahap awal bagi 123 peserta sebelum menjalani pendidikan klinis di RSUDZA dengan tuntutan untuk menjaga keseimbangan antara pencapaian kompetensi dan tanggung jawab terhadap keselamatan serta mutu pelayanan pasien. []

Redaksi08.

Bagikan:
Headlines Nasional