Penembakan di sebuah rumah di Erie, Pennsylvania, menewaskan delapan orang, termasuk seorang perempuan hamil dan dua anak-anak, sementara terduga pelaku berusia 45 tahun ditemukan meninggal dan motif kejadian masih diselidiki polisi.
WASHINGTON, D.C – Penembakan yang menewaskan delapan orang, termasuk seorang perempuan hamil dan dua anak-anak, mengguncang Kota Erie, Pennsylvania, Amerika Serikat (AS), Jumat (09/10/2026) malam waktu setempat. Terduga pelaku berusia 45 tahun juga ditemukan tewas akibat luka tembak yang diduga ditimbulkan sendiri, sehingga jumlah korban meninggal dalam insiden tersebut mencapai sembilan orang.
Kepolisian masih menyelidiki motif penembakan serta rangkaian kejadian yang berlangsung di sebuah rumah di Perry Street. Hingga Sabtu (10/10/2026), identitas terduga pelaku belum diumumkan kepada publik.
Kepala Kepolisian Erie Rick Lorah mengatakan, terduga pelaku telah meninggal sebelum petugas tiba di lokasi kejadian. Ia menggambarkan insiden tersebut sebagai salah satu peristiwa paling tragis yang pernah dihadapi aparat kepolisian setempat.
“Beberapa lokasi kejadian akan terus membekas dalam ingatan Anda, bahkan lama setelah Anda meninggalkannya. Ini salah satu kejadian tragis tersebut,” kata Lorah dalam konferensi pers pada Sabtu (10/10), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu (11/10/2026).
Lorah menjelaskan, delapan dari sembilan orang yang meninggal merupakan anggota keluarga, sedangkan satu korban lainnya adalah teman keluarga. Berdasarkan keterangan kepolisian, setelah memasuki rumah, terduga pelaku sempat keluar dan menembak dua perempuan yang terlihat tertekan. Kedua perempuan tersebut diketahui mondar-mandir untuk mencari pertolongan dari tetangga.
Petugas kemudian menemukan terduga pelaku di lantai dua rumah tersebut. Polisi menduga luka tembak yang menyebabkan pria itu meninggal ditimbulkan oleh dirinya sendiri. Namun, penyelidik masih mendalami seluruh rangkaian kejadian untuk memastikan kronologi dan motif di balik penembakan.
Wali Kota Erie Daria Devlin mengatakan, petugas kepolisian menghadapi situasi yang mengerikan ketika tiba di lokasi. Ia mengapresiasi tindakan aparat yang tetap menjalankan tugas di tengah kondisi yang sulit.
“Departemen kepolisian tiba di lokasi yang mengerikan, menghadapi keadaan yang sulit dibayangkan, dan menjalankan tugas mereka dengan keberanian dan profesionalisme,” kata Devlin.
Devlin juga menekankan bahwa para petugas merupakan bagian dari komunitas setempat yang turut merasakan dampak tragedi tersebut. Insiden ini tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga mengguncang masyarakat yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Gubernur Pennsylvania Josh Shapiro sebelumnya menyampaikan belasungkawa dan dukungan setelah berbicara dengan Devlin. Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai penembakan massal yang tragis.
Tragedi di Erie kembali menyoroti persoalan kekerasan bersenjata di AS. Berdasarkan data Gun Violence Archive, lebih dari 400 insiden penembakan massal tercatat di negara tersebut sepanjang 2026.
Organisasi itu mendefinisikan penembakan massal sebagai insiden ketika sedikitnya empat orang ditembak, tidak termasuk pelaku. Sebelum kejadian di Erie, penembakan massal terakhir yang tercatat di Pennsylvania terjadi di Philadelphia pada Juli 2026.
Penyelidikan kepolisian masih berlangsung untuk mengungkap motif terduga pelaku, memastikan kronologi penembakan, serta mendalami faktor-faktor yang menyebabkan sembilan orang meninggal dunia. Hasil penyelidikan diharapkan dapat memberikan kejelasan bagi keluarga korban dan masyarakat yang terdampak tragedi tersebut. []
Redaksi 03

