Tiga insiden penyerangan di lingkungan pendidikan dalam waktu kurang dari sepekan mendorong kepolisian Polandia menahan puluhan orang, memeriksa hampir 50 ribu sekolah, dan memperketat pengawasan terhadap ancaman kekerasan.
WARSAWA – Kepolisian Polandia memperketat pengamanan sekolah setelah tiga insiden penyerangan terjadi dalam waktu kurang dari sepekan, termasuk serangan terbaru di sebuah lembaga pendidikan tinggi swasta di Warsawa yang melukai tiga orang pada Sabtu (10/10/2026). Rentetan kejadian tersebut memicu kekhawatiran publik dan mendorong aparat meningkatkan langkah pencegahan di lingkungan pendidikan.
Dalam insiden terbaru itu, seorang perempuan menyerang sejumlah orang menggunakan benda berbahaya ketika para korban sedang menyerahkan berkas di kantor sekolah yang berada di distrik Praga, Warsawa. Dua korban merupakan remaja berusia 17 tahun, sedangkan satu lainnya pemuda berusia 24 tahun.
Juru bicara Kepolisian Warsawa, Jakub Filipiak, mengonfirmasi penggunaan benda berbahaya dalam penyerangan tersebut. Bercak darah terlihat di area rerumputan dekat pintu masuk sekolah setelah kejadian. Ketiga korban dilaporkan dalam kondisi stabil dan mengalami luka yang tidak mengancam jiwa, sementara perempuan yang diduga sebagai pelaku telah diamankan di kantor polisi.
Rentetan kekerasan itu terjadi ketika aparat Polandia tengah meningkatkan pengawasan untuk mencegah serangan susulan. Kepolisian mengumumkan telah menahan 76 orang dan melakukan pemeriksaan terhadap hampir 50 ribu sekolah di seluruh negeri sebagai bagian dari upaya pengamanan.
Sebelum insiden di Warsawa, dua penyerangan lebih dahulu terjadi di wilayah Mazovia. Pada Rabu (07/10/2026), seorang siswa berusia 19 tahun dilaporkan melukai sembilan orang menggunakan senjata tajam. Sehari kemudian, seorang remaja berusia 15 tahun menewaskan seorang penjaga sekolah dan melukai dua orang lainnya.
Rangkaian kejadian tersebut menimbulkan perhatian luas karena kekerasan di lingkungan pendidikan dinilai sebagai persoalan yang relatif baru bagi masyarakat Polandia. Meski demikian, pemerintah belum menemukan bukti yang memastikan adanya koordinasi di antara para pelaku ataupun tantangan di ruang digital yang mendorong serangan tersebut.
Peneliti senior dari Pusat Internasional untuk Kontraterorisme (International Centre for Counterterrorism) di Den Haag, Kacper Rekawek, menilai rangkaian kejadian itu berpotensi menunjukkan pola peniruan aksi kekerasan. Ia menyoroti kemungkinan munculnya skenario copycat, yakni tindakan yang meniru pola atau gaya serangan sebelumnya, dengan mengadopsi unsur yang menyerupai aksi terorisme global.
Kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan lanjutan sebelumnya juga menyebar melalui grup percakapan orang tua murid. Ancaman penyerangan massal yang beredar membuat 59 sekolah meliburkan kegiatan belajar-mengajar pada Jumat (09/10/2026).
Menteri Dalam Negeri Polandia Marcin Kierwinski menegaskan pemerintah tidak akan mengabaikan ancaman terhadap keselamatan pelajar. Dalam razia pada Jumat, polisi menyita sejumlah benda berbahaya, termasuk pisau lipat dan mercon, dari tas sejumlah siswa.
“Tidak ada kompromi di sini. Keselamatan para pemuda adalah hal yang paling utama,” tegas Kierwinski, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Minggu (11/10/2026).
Di tingkat pemerintahan, Perdana Menteri Polandia Donald Tusk berjanji mempercepat pengesahan rancangan undang-undang untuk memblokir konten berbahaya di ruang digital. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mencegah penyebaran materi yang dapat mendorong kekerasan, termasuk penayangan langsung atau live streaming aksi kejahatan.
Peningkatan pengamanan sekolah, penindakan terhadap ancaman, dan rencana pengawasan konten digital menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap rentetan insiden tersebut. Meski belum ada bukti bahwa ketiga serangan saling terkoordinasi, penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap motif setiap pelaku sekaligus memastikan lingkungan pendidikan tetap aman bagi siswa, tenaga pendidik, dan masyarakat. []
Redaksi 03

