MOSKOW – Sedikitnya tujuh orang tewas dan 48 lainnya terluka akibat serangkaian serangan udara yang melibatkan Rusia dan Ukraina sepanjang Sabtu (24/10/2026) malam hingga Minggu (25/10/2026). Serangan tersebut tidak hanya menimbulkan korban di kalangan warga sipil, tetapi juga melukai petugas penyelamat yang tengah menangani dampak pertempuran.
Berdasarkan laporan pejabat kedua negara yang dikutip Anadolu Agency, serangan Ukraina di wilayah Rusia menyebabkan tiga orang tewas dan 16 terluka. Sementara itu, serangan Rusia di Ukraina mengakibatkan sedikitnya empat orang meninggal dunia dan 32 lainnya mengalami luka-luka.
Di wilayah Bryansk, Rusia, dua orang tewas dan dua lainnya mengalami luka serius setelah pesawat nirawak Ukraina menyerang sebuah minibus milik perusahaan pertanian di Desa Borshchovo.
Kepala Wilayah Bryansk Yegor Kovalchuk mengatakan kendaraan tersebut menjadi sasaran serangan pesawat nirawak yang mengakibatkan korban jiwa dan luka berat.
Serangan serupa juga terjadi di Belgorod, Rusia. Gubernur Belgorod Alexander Shuvaev menyampaikan melalui platform media sosial Max bahwa serangan pesawat nirawak berskala besar sepanjang malam menyebabkan satu orang tewas dan 14 lainnya terluka.
Sementara itu, di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskyy melaporkan empat orang meninggal dunia dan 22 lainnya terluka akibat serangan Rusia di wilayah Dnipropetrovsk pada Sabtu malam.
Dampak serangan juga dirasakan di Kharkiv dan Vinnytsia. Layanan Darurat Negara Ukraina melaporkan sedikitnya 10 orang terluka dalam serangan di kedua wilayah tersebut, termasuk tiga petugas tanggap darurat yang sedang menjalankan tugas penyelamatan.
Enam orang lainnya dilaporkan terluka akibat serangan Rusia terhadap sebuah bangunan permukiman lima lantai di Vinnytsia.
Serangan tersebut memicu kebakaran di sejumlah lokasi. Petugas darurat yang dikerahkan untuk menangani kebakaran dilaporkan menghadapi serangan berulang ketika menjalankan operasi penyelamatan.
Sebuah kendaraan tangki pemadam kebakaran bahkan dilaporkan hancur sepenuhnya akibat serangan tersebut.
Di tengah bertambahnya korban, Zelenskyy mengungkapkan bahwa Rusia telah melancarkan serangan udara dalam jumlah besar terhadap Ukraina selama sepekan terakhir.
Menurutnya, sekitar 1.600 bom udara berpemandu, 48 rudal dari berbagai jenis termasuk rudal balistik, serta hampir 2.300 pesawat nirawak serang telah digunakan Rusia dalam periode tersebut.
“Inilah cara Rusia menanggapi diplomasi dan upaya mengakhiri isolasi,” kata Zelenskyy melalui Telegram, sebagaimana dikutip Anadolu Agency.
Zelenskyy menegaskan bahwa dukungan terhadap pertahanan Ukraina tidak boleh melemah meskipun proses perundingan terus berlangsung.
Ia meminta negara-negara Eropa segera merealisasikan pengiriman rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot yang sebelumnya telah disepakati.
Selain itu, Zelenskyy mendesak keberlanjutan dukungan terhadap kekuatan udara Ukraina guna menghadapi ancaman pesawat nirawak Shahed bermesin jet.
Di pihak lain, Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan pasukannya terus melancarkan serangan terhadap pusat logistik, fasilitas infrastruktur pelabuhan, serta kapal yang diduga mengangkut pasokan bagi militer Ukraina.
Di Kharkiv, Rusia mengklaim menyerang pusat logistik Epicentr, sebuah pusat distribusi, dan terminal logistik Vasyshchevo.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, fasilitas tersebut digunakan untuk menyimpan barang militer maupun barang penggunaan ganda yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung operasi angkatan bersenjata Ukraina.
Militer Rusia juga mengklaim telah menyerang sebuah kapal kargo yang membawa pasokan untuk pasukan Ukraina ketika kapal tersebut sedang berlayar menuju Pelabuhan Chornomorsk.
Selain melancarkan serangan, Rusia menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan 532 pesawat nirawak sayap tetap milik Ukraina di 25 wilayah Rusia sepanjang malam.
Namun, seluruh klaim militer dan laporan mengenai serangan dari kedua negara tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Rangkaian serangan ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap keselamatan masyarakat dan petugas penyelamat masih berlangsung di tengah upaya diplomatik untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. []
Redaksi

