Krisis Air Ganggu Sanitasi Sekolah, BPBD Mamuju Turun Tangan

Krisis Air Ganggu Sanitasi Sekolah, BPBD Mamuju Turun Tangan

Bagikan:

Kemarau panjang membuat sumber air MAN 1 Mamuju mengering dan mengganggu kebutuhan sanitasi, sehingga BPBD Sulawesi Barat mengirimkan 2.500 liter air bersih sekaligus meningkatkan pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan.

SULAWESI BARAT  – Krisis air bersih akibat kemarau panjang mulai mengganggu kegiatan belajar dan kebutuhan sanitasi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar). Untuk memenuhi kebutuhan darurat warga sekolah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulbar menyalurkan 2.500 liter air bersih menggunakan mobil tangki pada Kamis (29/10/2026).

Bantuan tersebut diberikan setelah pihak sekolah mengajukan permohonan karena sumber air utama di lingkungan sekolah mengering. Minimnya pasokan air membuat kebutuhan sehari-hari siswa dan guru, termasuk untuk sanitasi, ikut terganggu.

Kepala BPBD Sulbar Muhammad Yasir Fattah mengatakan, dampak kemarau kini mulai dirasakan langsung oleh lingkungan pendidikan.

“Hari ini kami salurkan 2.500 liter air. Memang kemarau kini dirasakan dampaknya anak-anak kita di sekolah,” ujar Yasir, Kamis (29/10/2026), sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat (30/10/2026).

Kondisi tersebut menjadi gambaran meluasnya dampak kekeringan di Mamuju. Tidak hanya fasilitas pendidikan, kawasan permukiman dan fasilitas umum juga menghadapi keterbatasan air bersih akibat hujan yang belum turun selama beberapa pekan terakhir.

Di tengah upaya memenuhi kebutuhan air masyarakat, BPBD Sulbar juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Cuaca terik dan kondisi lingkungan yang kering dinilai dapat meningkatkan potensi munculnya titik api.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BPBD bersama instansi terkait melakukan pemantauan wilayah secara berkala. Pengawasan juga dilakukan terhadap titik panas (hotspot) melalui data satelit guna mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin.

Langkah penyaluran air darurat dan pemantauan titik panas menjadi bagian dari upaya menghadapi dampak kemarau yang meluas. Pemerintah daerah diharapkan terus memastikan kebutuhan air bersih masyarakat, terutama di fasilitas pendidikan dan kawasan permukiman, tetap terpenuhi sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla. []

Redaksi 1

Bagikan:
Bencana Berita Daerah