Penggerebekan 13 kompleks penipuan di Madagaskar mengungkap dugaan perpindahan sindikat kriminal dari Kamboja ke Afrika dengan merekrut warga asing melalui tawaran pekerjaan yang berujung eksploitasi dan perdagangan manusia.
ANTANANARIVO – Jaringan penipuan daring lintas negara diduga memperluas operasinya dari Asia Tenggara ke Afrika setelah aparat membongkar sejumlah kompleks kejahatan siber di Madagaskar. Pengungkapan tersebut mengindikasikan adanya perpindahan kelompok kriminal yang sebelumnya beroperasi di Kamboja, dengan memanfaatkan perdagangan manusia untuk merekrut pekerja yang kemudian dipaksa menjalankan penipuan.
Pengungkapan jaringan ini merupakan hasil serangkaian operasi pemberantasan pusat penipuan daring pada Agustus dan September 2026. Sebanyak 13 kompleks yang diduga dikelola warga negara China berhasil dibongkar melalui operasi bersama otoritas Madagaskar dan Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ).
Kementerian Kehakiman Madagaskar menyebut sebanyak 148 warga negara China telah diekstradisi ke China terkait rangkaian kasus tersebut. Dalam salah satu operasi, aparat juga menyita aset mata uang kripto senilai sekitar 52 juta dolar Amerika Serikat dan memeriksa lebih dari 3.200 perangkat elektronik.
Jaringan tersebut diduga menjalankan berbagai modus penipuan, mulai dari penipuan asmara, investasi palsu, hingga penawaran mata uang kripto. Operasi mereka tidak hanya menyasar masyarakat setempat, tetapi juga warga dari sejumlah negara lain, terutama negara yang menggunakan bahasa Inggris.
Kepala Unit Kejahatan Kepolisian Madagaskar, Hassan Mouigni, mengungkapkan bahwa sebagian pekerja direkrut melalui media sosial menggunakan tawaran pekerjaan di sektor komersial dengan iming-iming gaji menarik. Namun, setelah tiba di Madagaskar, mereka diduga kehilangan kebebasan karena dokumen perjalanan disita dan dipaksa terlibat dalam aktivitas penipuan.
“Mereka mengaku direkrut melalui Facebook untuk bekerja di sektor komersial di Madagaskar,” ujar Mouigni kepada AFP.
“Namun saat ketibaan, sebagian besar paspor mereka disita oleh pemimpin operasi, dan mereka dipaksa menjalankan penipuan. Mereka ini adalah korban penipuan,” sambungnya, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (03/11/2026).
Sekitar 20 warga negara Kenya, Rwanda, Uganda, dan Zimbabwe dilaporkan berada dalam tahanan terkait kasus tersebut. Sejumlah pejabat menyebut mereka kemungkinan merupakan korban perdagangan manusia yang direkrut dengan janji pekerjaan, tetapi justru dipaksa bekerja di pusat penipuan.
Persoalan ini turut memunculkan sorotan terhadap penanganan para pekerja yang ditahan. Pasalnya, sebagian warga Afrika masih berada dalam tahanan meskipun temuan awal menunjukkan kemungkinan mereka merupakan korban eksploitasi jaringan kriminal.
Dugaan perpindahan operasi dari Asia Tenggara ke Afrika juga diperkuat oleh keterangan Koordinator Unit Kejahatan Siber di Kementerian Komunikasi Madagaskar, Tsitohaina Ralihivao. Ia menghubungkan perkembangan tersebut dengan penindakan terhadap kompleks penipuan di Kamboja pada 2025, khususnya di kawasan dekat perbatasan Thailand.
“Setelah kompleks-kompleks tersebut dibongkar oleh otoritas Thailand, jaringan yang sama memindahkan operasinya ke Madagaskar,” ucapnya.
Departemen Kehakiman Amerika Serikat menduga kelompok kriminal yang memiliki keterkaitan dengan Malaysia dan China mulai membangun kompleks penipuan di Madagaskar pada awal 2025. Perpindahan tersebut diduga dilakukan setelah operasi penegakan hukum di Kamboja meningkatkan tekanan terhadap aktivitas mereka.
Dokumen pengadilan yang disusun Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat turut memperkuat dugaan tersebut. Dokumen itu memuat keterangan tiga warga Brasil yang sebelumnya bekerja di kompleks penipuan di Antananarivo. Mereka mengaku awalnya menerima tawaran pekerjaan melalui internet sebelum akhirnya ditempatkan di fasilitas penipuan di Kamboja.
Ketiganya kemudian dipindahkan ke Antananarivo pada awal Mei 2026. Pemindahan tersebut diduga berkaitan dengan konflik bersenjata antara Kamboja dan Thailand serta meningkatnya operasi kepolisian Kamboja terhadap pusat penipuan daring.
“Pusat-pusat penipuan siber semakin banyak dibuka di Afrika setelah kompleks serupa ditutup di Asia Tenggara,” sebut pernyataan FBI.
Mouigni menjelaskan, keterlibatan otoritas Amerika Serikat dalam penanganan kasus ini berkaitan dengan sasaran operasi penipuan yang mencakup sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Pakistan. Untuk menjangkau korban di negara-negara tersebut, jaringan kriminal diduga membutuhkan pekerja yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris, termasuk dari berbagai negara Afrika.
Salah satu pihak yang turut diselidiki adalah warga negara Malaysia bernama Chui Kok Wa. Otoritas Amerika Serikat menyebut pria tersebut diduga menjalankan skema penipuan asmara dan tinggal di sebuah vila di kawasan Ivato, dekat ibu kota Madagaskar, Antananarivo.
Berdasarkan keterangan Mouigni, visa dalam paspor Chui menunjukkan bahwa pria tersebut pertama kali tiba di Madagaskar pada 2024 dan sebelumnya pernah berada di Kamboja. Informasi tersebut menjadi salah satu petunjuk yang ditelusuri penyidik untuk mengungkap kemungkinan hubungan antara operasi penipuan di kedua negara.
Keberadaan kompleks penipuan di Antananarivo juga mulai menarik perhatian masyarakat. Mouigni mengatakan para pelaku awalnya menyewa vila untuk menyamarkan aktivitas mereka. Namun, keberadaan jaringan tersebut semakin mudah diketahui setelah mereka mulai menyewa seluruh bangunan hotel.
“Namun, aktivitas mereka mulai terungkap ketika mereka beralih menyewa seluruh bangunan hotel,” ujarnya.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian penyidik adalah Live Hotel di Antananarivo. Kompleks tersebut diduga dipimpin seorang warga negara China yang termasuk dalam kelompok yang telah diekstradisi ke Beijing. Seorang petugas kepolisian federal Amerika Serikat menyatakan dalam dokumen pengadilan bahwa pemimpin operasi yang telah diidentifikasi tersebut tidak dapat diperiksa oleh FBI.
Di sisi lain, penggerebekan jaringan penipuan ini sempat diwarnai kontroversi setelah 11 warga negara China yang ditangkap pada Agustus dilaporkan secara misterius keluar dari tahanan. Dugaan keterlibatan kepala lembaga pemasyarakatan setempat turut mencuat dalam penyelidikan kasus tersebut.
Meningkatnya aktivitas pusat penipuan daring di Madagaskar memperlihatkan bahwa penindakan terhadap kejahatan siber di satu negara dapat mendorong kelompok kriminal mencari lokasi operasi baru. Karena itu, kerja sama lintas negara, pengawasan perekrutan tenaga kerja asing, serta perlindungan terhadap korban perdagangan manusia menjadi langkah penting untuk memutus jaringan penipuan internasional. []
Redaksi 03

