AS-Israel Gempur Fasilitas Bawah Tanah Iran, Isfahan Diguncang Ledakan Dahsyat

AS-Israel Gempur Fasilitas Bawah Tanah Iran, Isfahan Diguncang Ledakan Dahsyat

Bagikan:

TEHERAN – Eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah titik strategis di Iran pada Selasa (31/03/2026) dini hari. Serangan terbaru ini difokuskan pada gudang senjata bawah tanah di Isfahan, yang disebut menjadi lokasi penyimpanan sekitar 450 kilogram uranium yang telah diperkaya, sekaligus mempertegas ancaman terhadap fasilitas energi dan pertahanan Iran.

Serangan tersebut menargetkan sejumlah kota utama, mulai dari Teheran hingga Isfahan. Sebagaimana diberitakan Anadolu Agency, Selasa, (31/03/2026), AS dan Israel dilaporkan menjatuhkan bom penghancur bunker seberat 2.000 pound atau sekitar 907 kilogram untuk menghantam fasilitas bawah tanah di Isfahan.

Laporan menyebut Iran sebelumnya telah memindahkan sekitar 450 kilogram uranium yang diperkaya ke ruang bawah tanah di kota tersebut. Lokasi itu juga pernah menjadi sasaran serangan AS dalam Perang 12 Hari pada tahun lalu.

“Sejumlah besar bom penghancur bunker atau amunisi penetrator, digunakan untuk serangan itu,” kata salah satu pejabat dalam laporan The Wall Street Journal, yang dikutip NDTV.

Serangan tersebut diklaim memicu serangkaian ledakan sekunder yang dahsyat. Bola api dilaporkan membumbung tinggi, disertai gelombang kejut yang menyebar ke hampir seluruh area sekitar sasaran.

Bom penghancur bunker dirancang menggunakan selongsong baja keras agar mampu menembus lapisan tanah dan beton sebelum meledak pada kedalaman tertentu. Karakteristik inilah yang membuat jenis amunisi tersebut dinilai efektif untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah yang sulit dijangkau bom konvensional.

Ahli amunisi dari lembaga think tank berbasis di AS, Foundation for Defence of Democracies, Ryan Brobst, menjelaskan kekuatan utama bom tersebut terletak pada desain selongsongnya.

“Sebenarnya, mereka sering kali punya muatan bahan peledak yang lebih kecil tetapi selubungnya yang memungkinkan menancap ke dalam tanah, seperti bor, dan kemudian menghancurkan target-target ini,” kata Brobst.

Sejumlah varian bom juga dilengkapi teknologi High Throughput Satellite (HTSF) yang memungkinkan perangkat menghitung jumlah lantai atau mendeteksi perubahan kepadatan saat memasuki ruang terbuka, seperti silo rudal, sebelum meledak. Beberapa di antaranya bahkan disebut menggunakan mikrofon untuk memicu ledakan setelah menangkap suara tertentu.

Serangan terbaru ini terjadi setelah Presiden Donald Trump menyatakan pasukan AS akan menghancurkan pusat energi Iran apabila negosiasi gagal dan Iran tetap menolak membuka Selat Hormuz. Pernyataan itu memperkuat sinyal bahwa ketegangan kawasan masih berpotensi meningkat dalam waktu dekat. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang