WASHINGTON D.C. – Amerika Serikat (AS) memperpanjang masa gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama 45 hari ke depan di tengah masih berlangsungnya serangan lintas perbatasan antara kedua pihak. Keputusan tersebut diumumkan menjelang berakhirnya masa gencatan senjata sebelumnya pada Minggu (17/05/2026).
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Tommy Pigott mengatakan perpanjangan dilakukan untuk membuka ruang diplomasi dan mempercepat pembahasan menuju kesepakatan permanen antara Israel dan Lebanon.
“Gencatan senjata pada 16 April akan diperpanjang selama 45 hari untuk memungkinkan kemajuan lebih lanjut,” kata Tommy Pigott, sebagaimana dilansir AFP, Jumat (15/05/2026).
AS juga dijadwalkan menggelar perundingan lanjutan pada 2-3 Juni 2026 dengan menghadirkan delegasi militer dari Israel dan Lebanon. Pertemuan awal delegasi disebut akan dimulai pada 29 Mei 2026.
“Kami berharap diskusi ini akan memajukan perdamaian abadi antara kedua negara, pengakuan penuh atas kedaulatan dan integritas wilayah masing-masing, serta membangun keamanan sejati di sepanjang perbatasan bersama mereka,” kata Pigott.
Meski status gencatan senjata diperpanjang, situasi di lapangan dilaporkan masih belum sepenuhnya kondusif. Israel disebut terus melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon selama proses negosiasi berlangsung.
Di sisi lain, Lebanon ikut terseret dalam konflik Timur Tengah sejak 2 Maret 2026 setelah Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Menurut otoritas Lebanon, serangan Israel sejak awal konflik telah menewaskan lebih dari 2.900 orang. Bahkan, lebih dari 400 korban jiwa dilaporkan jatuh setelah gencatan senjata mulai diberlakukan pada 17 April 2026.
Perpanjangan gencatan senjata tersebut diharapkan dapat menekan eskalasi konflik di kawasan perbatasan Israel-Lebanon sekaligus membuka peluang tercapainya kesepakatan damai yang lebih permanen di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap kedua pihak. []
Redaksi05

