Konflik Israel-Hizbullah Memanas, Serangan Meluas ke Bekaa Barat

Konflik Israel-Hizbullah Memanas, Serangan Meluas ke Bekaa Barat

Bagikan:

BEIRUT – Konflik bersenjata antara Israel dan Hizbullah kembali memanas setelah serangan militer Israel meluas hingga wilayah Bekaa barat, Lebanon. Eskalasi terbaru itu memicu gelombang pengungsian besar-besaran dan meningkatkan kekhawatiran internasional menjelang negosiasi langsung pertama Lebanon dan Israel di Washington D.C., Amerika Serikat.

Serangan udara Israel yang sebelumnya terkonsentrasi di wilayah perbatasan selatan Lebanon kini menjangkau sejumlah kawasan padat penduduk yang berada sekitar 40 kilometer dari garis konflik.

Pemerintah Israel melalui Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di sejumlah wilayah, termasuk Lebaya, Sohmor, Yohmor, Ain al-Tineh, Teffahta, Kfar Melki, Houmine al-Fawqa, dan Mazraat Sinai.

“Demi keselamatan, Anda harus segera mengosongkan rumah dan pindah setidaknya 1.000 meter ke area terbuka. Siapa pun yang berada di dekat anggota, fasilitas, dan peralatan tempur Hizbullah mempertaruhkan nyawanya,” bunyi pernyataan peringatan dari IDF, sebagaimana dilansir Ntvnews, Sabtu (16/05/2026).

Data menunjukkan sedikitnya 95 kota dan desa di Lebanon telah menerima perintah evakuasi sejak perjanjian gencatan senjata diberlakukan pada 17 April 2026. Kondisi tersebut menyebabkan ribuan warga meninggalkan rumah mereka, terutama dari distrik Nabatieh, Sidon, Bekaa barat, dan Zahrani.

Berdasarkan data Dewan Riset Ilmiah Nasional Lebanon, tercatat sekitar 8.200 serangan Israel terjadi pada periode 2 Maret hingga 16 April 2026. Setelah gencatan senjata diklaim berlaku, lembaga tersebut masih mencatat 3.318 pelanggaran darat dan 2.324 pelanggaran udara hingga 11 Mei 2026.

Militer Israel juga dilaporkan meningkatkan intensitas serangan udara sejak Kamis (14/05/2026), dengan membombardir sejumlah wilayah seperti Mansouri, Kfar Tebnit, Teffahta, Kafra, Siddiqine, Jabal al-Batm, hingga Zebqine.

Serangan kemudian meluas ke wilayah Bekaa barat beberapa jam setelah peringatan evakuasi diterbitkan. Selain serangan udara, drone Israel disebut semakin sering menargetkan kendaraan sipil dan tim penyelamat di Lebanon selatan.

Salah satu serangan dilaporkan menghantam pos dan ambulans milik Asosiasi Pramuka Islam Risala di wilayah Qsaybeh, Nabatieh.

Sebagai balasan, Hizbullah meluncurkan roket dan drone ke sejumlah posisi militer Israel. Kelompok tersebut mengklaim berhasil menyerang kendaraan tempur Israel di Bayyada, melumpuhkan tank Merkava di pinggiran Kfar Kila, serta menyerang pasukan Israel yang bergerak menuju Naqoura menggunakan rudal berpemandu dan artileri.

Dalam perkembangan lain, media Israel melaporkan sebuah drone bermuatan bahan peledak milik Hizbullah berhasil menghantam wilayah Ras al-Naqoura dan melukai tiga orang, dua di antaranya dalam kondisi kritis.

Radio Angkatan Darat Israel menyebut sistem sirene peringatan dan pertahanan udara gagal mencegat drone tersebut. Kondisi itu memunculkan kekhawatiran baru terkait efektivitas sistem pertahanan Israel menghadapi serangan pesawat nirawak Hizbullah.

Meningkatnya ancaman serangan drone juga membuat militer Israel memperketat prosedur keamanan bagi tentaranya di wilayah utara. Tentara Israel kini diwajibkan mengenakan rompi pelindung dan helm setiap saat di garis depan konflik. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang