KYIV – Serangan udara Rusia yang menghantam ibu kota Ukraina menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk tiga anak-anak, setelah satu blok apartemen dilaporkan hancur total akibat serangan rudal. Tragedi yang terjadi di Kyiv itu disebut sebagai salah satu serangan paling mematikan sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina dimulai.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengonfirmasi jumlah korban jiwa tersebut pada Jumat (15/05/2026) usai meninjau langsung lokasi reruntuhan bangunan yang terdampak serangan.
“Rusia secara praktis menghancurkan seluruh bagian bangunan dengan rudal mereka,” ujar Presiden Zelenskyy setelah mengunjungi lokasi reruntuhan di Kyiv, sebagaimana dilansir TVRINews, Jumat (15/05/2026).
Pembaruan jumlah korban diumumkan setelah operasi pencarian dan penyelamatan semalaman selesai dilakukan di antara puing-puing bangunan apartemen yang hancur akibat serangan udara tersebut.
Kementerian Luar Negeri Ukraina menyebut eskalasi serangan itu menjadi salah satu periode paling kelam yang dialami Kyiv dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Ukraina juga kembali mendesak dukungan internasional untuk memperkuat sistem pertahanan udara negara tersebut.
“Rusia yang seperti ini tidak akan pernah bisa dinormalisasi sebuah negara yang sengaja menghancurkan kehidupan dan berharap untuk tetap bebas dari hukuman. Tekanan (internasional) sangat diperlukan. Ukrainalah yang kini membela Eropa dan dunia agar serangan seperti ini, yang menewaskan anak-anak, tidak meluas lebih jauh,” tegas Zelenskyy.
Di tengah meningkatnya ketegangan perang, Rusia dan Ukraina dilaporkan melakukan pertukaran tawanan perang masing-masing sebanyak 205 orang. Otoritas Kyiv menyebut pertukaran tersebut menjadi bagian awal dari rencana pertukaran lebih besar yang melibatkan total 2.000 tawanan dari kedua negara.
Situasi keamanan di Ukraina hingga kini masih memanas seiring intensitas serangan udara yang terus meningkat. Pemerintah Ukraina berharap tekanan internasional terhadap Rusia dapat diperkuat untuk mencegah jatuhnya lebih banyak korban sipil dalam konflik berkepanjangan tersebut. []
Redaksi05

