Otoritas Thailand menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap tujuh orang dan menargetkan aset senilai lebih dari 35 miliar baht yang diduga terkait pencucian uang hasil jaringan penipuan lintas negara di Asia Tenggara.
BANGKOK – Otoritas Thailand membidik aset senilai lebih dari 35 miliar baht atau sekitar Rp18,8 triliun yang diduga berkaitan dengan jaringan penipuan lintas negara di Asia Tenggara. Upaya penindakan ini disertai penerbitan surat perintah penangkapan terhadap tujuh orang yang diduga terlibat dalam konspirasi pencucian uang dan aktivitas organisasi kriminal.
Pengadilan pidana Thailand menerbitkan surat perintah tersebut pada 27 Oktober 2026. Salah satu orang yang menjadi sorotan ialah warga negara Afrika Selatan, Ben Smith, yang juga dikenal dengan nama Benjamin Mauerberger. Ia diduga memimpin kelompok tersebut. Dua nama lain yang disebut dalam perkara ini adalah istrinya yang berkewarganegaraan Thailand, Cattaliya Beevor, dan pengusaha asal Kamboja, Yim Leak.
Polisi Thailand menyatakan Smith dan Yim Leak diyakini telah meninggalkan negara tersebut. Mengutip laporan The Straits Times, penyelidik senior kepolisian Thailand, Ratthachin Jermsap, menyampaikan perkembangan penyelidikan yang berkaitan dengan dugaan pencucian uang dari jaringan penipuan regional.
Kantor Anti-Pencucian Uang Thailand (Anti-Money Laundering Office atau AMLO) menyebut aset yang menjadi sasaran penyitaan mencakup saham, properti, uang tunai, dan kendaraan. Nilai saham yang akan disita diperkirakan melampaui 14 miliar baht, sedangkan properti, uang tunai, dan kendaraan bernilai sekitar 21 miliar baht.
Jika digabungkan, nilai aset tersebut mencapai lebih dari 35 miliar baht atau sekitar Rp18,85 triliun. Besarnya nilai aset yang dibidik menunjukkan bahwa penyelidikan tidak hanya menyasar dugaan pelaku, tetapi juga harta yang diduga terkait dengan aktivitas ilegal.
Sebagian saham yang menjadi objek penyitaan berasal dari perusahaan besar Thailand, termasuk Bangchak, salah satu perusahaan penyulingan minyak terbesar di negara itu. Bangchak menegaskan aset yang disita berkaitan dengan investor individu dan tidak memengaruhi kegiatan operasional perusahaan.
Nama Smith sebelumnya dikaitkan dengan operasi penipuan lintas negara yang berbasis di Kamboja. Sementara itu, Yim Leak disebut berasal dari keluarga elite politik Kamboja dan merupakan saudara seorang pejabat senior kepolisian negara tersebut. Informasi mengenai hubungan dan dugaan keterlibatan mereka tetap perlu diuji melalui proses hukum.
Penindakan terbaru ini bukan kali pertama aset Smith menjadi sasaran otoritas Thailand. Pada Februari 2026, otoritas Thailand memerintahkan penyitaan aset senilai lebih dari 410 juta dolar AS milik Smith dan sejumlah individu lain yang dituduh terlibat dalam penipuan.
Perkembangan tersebut memperlihatkan berlanjutnya upaya Thailand menelusuri aliran dana yang diduga berasal dari kejahatan lintas negara. Penelusuran aset menjadi salah satu langkah penting untuk mengidentifikasi hasil kejahatan sekaligus menghambat pemanfaatan sistem keuangan untuk menyamarkan sumber dana.
Dugaan jaringan yang beroperasi lintas negara membuat penanganan perkara berpotensi melibatkan lebih dari satu yurisdiksi. Keberadaan pihak yang diduga telah meninggalkan Thailand juga dapat menambah tantangan bagi penyidik dalam melacak keberadaan mereka dan mengumpulkan bukti.
Otoritas Thailand perlu memastikan penyitaan dan proses penegakan hukum dilakukan berdasarkan bukti serta ketentuan hukum yang berlaku. Penanganan yang transparan, disertai kerja sama dengan negara-negara terkait, diharapkan dapat membantu mengungkap aliran dana dan mempersempit ruang gerak jaringan penipuan di Asia Tenggara. []
Redaksi 03

