Eks Gubernur Bank Sentral Hungaria Ditahan, Aset Rp14,8 Triliun Diselidiki

Eks Gubernur Bank Sentral Hungaria Ditahan, Aset Rp14,8 Triliun Diselidiki

Bagikan:

Kejaksaan Hungaria menyelidiki dugaan penyalahgunaan aset publik senilai Rp14,8 triliun melalui yayasan bank sentral, termasuk dugaan perjanjian pinjaman sekuritas fiktif menjelang berakhirnya masa jabatan mantan gubernur.

HUNGARIA – Pengelolaan aset publik senilai US$817,8 juta atau sekitar Rp14,8 triliun yang ditempatkan dalam yayasan Bank Sentral Hungaria (MNB) menjadi fokus penyelidikan kejaksaan setelah mantan gubernurnya, Gyorgy Matolcsy, ditahan. Kasus ini berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan dana yayasan yang dibentuk pada 2014 dan pengaturan aset menjelang berakhirnya masa jabatan Matolcsy pada 2025.

Kantor Kejaksaan Investigasi Pusat Hungaria mengungkapkan, penyidik telah melakukan penggeledahan dan serangkaian tindakan investigasi di sejumlah lokasi. Penyelidikan diarahkan pada dugaan penyelewengan dana di lingkungan bank sentral, termasuk pengelolaan aset yayasan yang bersumber dari dana publik.

“Ia melakukan tindakan investigasi terkoordinasi di beberapa lokasi sehubungan dengan penyelidikan terkait bank sentral terhadap penyelewengan dana secara kriminal,” kata Kantor Kejaksaan Investigasi Pusat Hungaria pekan lalu, sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Minggu, (01/11/2026).

Salah satu bagian yang menjadi perhatian penyidik adalah pengelolaan aset melalui Optima Investment Ltd, perusahaan yang bertindak sebagai pengelola aset yayasan. Jaksa menduga perusahaan tersebut menyelesaikan perjanjian pinjaman sekuritas fiktif pada hari terakhir Matolcsy menjabat sebagai gubernur bank sentral.

Perjanjian tersebut diduga dirancang untuk memberikan kendali atas aset yayasan kepada sekelompok orang yang disebut memiliki pengaruh terhadap Matolcsy, bahkan setelah ia meninggalkan jabatannya.

“Dengan tujuan memungkinkan (Matolcsy) dan putranya melakukan investasi dengan aset tersebut sesuai dengan tujuan mereka masing-masing guna mendapatkan keuntungan,” kata Jaksa.

Yayasan yang menjadi objek penyelidikan dibentuk pada 2014 dan menerima aset publik senilai US$817,8 juta. Dana tersebut berasal dari keuntungan nilai tukar bank sentral. Penggunaan dana publik dalam yayasan itu kini dipersoalkan karena diduga tidak dikelola sesuai kepentingan lembaga dan masyarakat.

Kasus ini mulai mencuat ke publik pada bulan sebelumnya setelah para petinggi bank sentral mengajukan tuntutan pidana terkait dugaan penggelapan, kelalaian, penipuan, dan penyalahgunaan jabatan selama Matolcsy memimpin lembaga tersebut.

Persoalan tersebut terungkap setelah bank sentral melakukan audit terhadap investasi properti yang dilakukan sebelumnya. Hasil pemeriksaan menemukan dugaan pembelian dengan nilai yang digelembungkan sehingga menimbulkan kerugian finansial signifikan bagi lembaga tersebut.

Matolcsy menjabat sebagai Gubernur MNB selama 2013 hingga 2025. Sebelum menduduki posisi itu, ia merupakan Menteri Perekonomian dalam pemerintahan Perdana Menteri Viktor Orban pada 2010 hingga 2013. Matolcsy juga dikenal sebagai salah satu sekutu ekonomi terdekat Orban.

Penahanan dan pemeriksaan terhadap Matolcsy menjadi bagian dari proses hukum untuk mengungkap dugaan penyimpangan pengelolaan aset yayasan. Penyelidikan diharapkan dapat menjelaskan aliran dana, pihak-pihak yang terlibat, serta memastikan pertanggungjawaban atas penggunaan aset publik senilai triliunan rupiah tersebut. []

Redaksi 03

Bagikan:
Hotnews Hukum Internasional