BEIRUT – Kelompok Perlawanan Islam Hizbullah meningkatkan intensitas serangan terhadap posisi militer Israel di wilayah perbatasan Lebanon selatan. Serangan menggunakan drone bunuh diri dan roket itu menyasar pusat komando baru militer Israel di Al-Bayyadah serta posisi pasukan di Naqoura di tengah rapuhnya gencatan senjata kedua pihak.
Hizbullah menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas serangan Israel ke desa-desa di Lebanon selatan yang disebut menyebabkan korban sipil tewas dan luka-luka. Dalam pernyataan resminya, kelompok itu menyebut serangan dilakukan pada Jumat (22/05/2026) pukul 19.45 waktu setempat.
“Untuk membela Lebanon dan rakyatnya” sekaligus sebagai balasan atas agresi terbaru Israel, demikian pernyataan Hizbullah sebagaimana dilansir Mehr News, Sabtu (23/05/2026).
Fasilitas militer Israel di Al-Bayyadah disebut merupakan pusat komando baru yang dibangun untuk memperkuat posisi operasional di kawasan perbatasan. Hizbullah mengklaim drone bunuh diri yang mereka luncurkan berhasil menghantam lokasi tersebut.
Selain menyerang pusat komando, Hizbullah juga meluncurkan roket ke titik konsentrasi pasukan Israel di Al-Bayyadah. Serangan lain diarahkan ke posisi militer Israel di Naqoura menggunakan drone bunuh diri.
Media-media Ibrani pada waktu hampir bersamaan melaporkan adanya “insiden keamanan” yang melibatkan militer Israel di Naqoura. Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi terkait jumlah korban maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Ketegangan di wilayah perbatasan Lebanon-Israel dalam beberapa pekan terakhir terus meningkat. Israel disebut masih melancarkan serangan ke sejumlah wilayah Lebanon selatan dengan alasan menargetkan infrastruktur Hizbullah, sementara kelompok tersebut memperluas pola serangan terhadap posisi militer Israel.
Peningkatan penggunaan drone bunuh diri dan serangan presisi dinilai menunjukkan perubahan strategi Hizbullah dalam menghadapi tekanan militer Israel di kawasan perbatasan. Kondisi itu membuat situasi keamanan di garis depan Lebanon-Israel semakin rawan dan berpotensi memicu konfrontasi yang lebih luas. []
Redaksi05

