BEIRUT – Serangan udara militer Israel kembali mengguncang kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon, pada Rabu (06/05/2026), dengan sasaran seorang komandan pasukan elit Radwan milik Hizbullah. Aksi militer itu menjadi serangan pertama ke wilayah Dahiyeh sejak gencatan senjata diberlakukan pertengahan April 2026 lalu.
Wilayah Dahiyeh diketahui merupakan basis politik dan militer Hizbullah di Beirut. Serangan tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap potensi meluasnya konflik di tengah situasi gencatan senjata yang masih rapuh antara Israel dan Hizbullah.
Militer Israel menyebut target operasi adalah komandan pasukan Radwan yang dituding terlibat dalam serangan terhadap wilayah Israel dan personel militer mereka.
“Para anggota Radwan, yang dipimpin oleh komandan ini, bertanggung jawab atas penembakan terhadap komunitas Israel dan melukai tentara IDF,” kata pernyataan bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, sebagaimana dilansir Reuters, Kamis, (07/05/2026).
Pasukan Radwan merupakan unit elit Hizbullah yang selama ini dikenal menjalankan operasi lintas perbatasan dan menjadi salah satu fokus utama operasi militer Israel.
Serangan udara di Dahiyeh menjadi perhatian internasional karena kawasan tersebut berada jauh dari garis depan utama konflik di Lebanon selatan. Situasi itu dinilai berpotensi memperbesar eskalasi ketegangan antara kedua pihak.
Meski gencatan senjata telah diumumkan sejak 16 April 2026, bentrokan sporadis di wilayah perbatasan Lebanon selatan dilaporkan masih terus terjadi.
Pemerintah Israel menilai operasi tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan wilayahnya dari ancaman kelompok bersenjata Hizbullah.
Di sisi lain, pengamat menilai serangan ke pusat basis Hizbullah di Beirut dapat memicu respons balasan yang memperburuk stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah.
Hingga kini belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban maupun tanggapan langsung dari Hizbullah terkait serangan tersebut. Namun, ketegangan di kawasan diperkirakan masih akan berlanjut seiring belum stabilnya implementasi gencatan senjata antara kedua pihak. []
Redaksi05

