Israel Kembali Serang Lebanon, Kesepakatan Damai Timur Tengah Diuji

Israel Kembali Serang Lebanon, Kesepakatan Damai Timur Tengah Diuji

Bagikan:

BEIRUT – Kesepakatan damai yang diumumkan untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah menghadapi ujian awal setelah militer Israel kembali melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Serangan tersebut terjadi di tengah upaya meredakan ketegangan pascaperjanjian Amerika Serikat (AS)-Iran yang juga mencakup Lebanon.

Media pemerintah Lebanon, National News Agency (NNA), melaporkan serangan udara Israel pada Rabu (17/06/2026) menargetkan wilayah Nabatieh al-Fawqa dan pinggiran timur Kfar Tebnit. Selain itu, serangan pesawat nirawak atau drone juga dilaporkan terjadi di Kota Ansariyeh, wilayah Zahrani.

Menurut laporan NNA, sedikitnya lima orang tewas di Lebanon selatan sejak kesepakatan AS-Iran diumumkan pada Senin (15/06/2026). Informasi tersebut disampaikan sebagaimana dilansir AFP, Rabu, (17/06/2026).

Meski tingkat kekerasan dilaporkan menurun, situasi keamanan di Lebanon selatan dinilai masih belum sepenuhnya stabil. Sebagian warga mulai kembali ke kota dan desa mereka, tetapi militer Lebanon meminta masyarakat menunda kepulangan karena masih adanya risiko serangan lanjutan.

Konflik di Lebanon meningkat sejak awal Maret 2026 setelah kelompok Hizbullah meluncurkan roket ke wilayah Israel. Aksi tersebut disebut sebagai respons atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan gabungan AS-Israel. Israel kemudian merespons dengan serangan udara skala besar dan operasi darat.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penyelesaian konflik belum sepenuhnya tercapai selama pasukan Israel masih berada di wilayah Lebanon.

“Setiap serangan militer oleh rezim Zionis terhadap Lebanon mulai sekarang dan pendudukan wilayah Lebanon yang berkelanjutan, mulai sekarang akan dianggap sebagai pelanggaran nota kesepahaman menurut pandangan kami,” kata Abbas Araghchi.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pasukan negaranya akan tetap berada di Lebanon “selama diperlukan”. Pernyataan tersebut memperlihatkan masih adanya perbedaan pandangan mengenai implementasi perjanjian damai di kawasan.

Hingga kini, Hizbullah belum mengeluarkan pernyataan resmi terbaru terkait perkembangan situasi di Lebanon selatan. Namun, pemimpin kelompok itu, Naim Qassem, sebelumnya menyampaikan “rasa terima kasih yang mendalam atas upaya Iran untuk memaksa entitas Israel menghentikan operasi militer segera dan permanen di semua lini, termasuk di Lebanon”.

Berkelanjutannya operasi militer di Lebanon menunjukkan bahwa upaya meredakan konflik Timur Tengah masih menghadapi tantangan besar. Stabilitas kawasan dinilai bergantung pada kepatuhan seluruh pihak terhadap komitmen damai yang telah disepakati. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang