RAKHINE – Eskalasi konflik di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, kian memanas setelah rezim militer meningkatkan tekanan dari jalur laut dengan mengerahkan kapal perang dan pengawasan drone secara intensif di wilayah pesisir yang dikuasai kelompok bersenjata Arakan Army (AA), Selasa (21/04/2026).
Langkah tersebut memicu ketakutan warga di sejumlah kotapraja seperti Taungup, Ramree, dan Thandwe, seiring meningkatnya aktivitas militer yang dinilai mengarah pada potensi operasi amfibi. Pengerahan armada laut ini menjadi strategi baru di tengah terbatasnya ruang gerak pasukan darat junta.
Seorang warga Ramree mengungkapkan situasi di wilayahnya semakin mencekam sejak menjelang perayaan Thingyan. “Kehadiran angkatan laut telah meningkat sejak sebelum Thingyan. Sebelumnya, mereka berada sekitar 20 hingga 30 mil (sekitar 30-50 km) dari pantai, tetapi sekarang mereka jauh lebih dekat. Drone juga dikerahkan setiap hari, sehingga orang-orang takut dan menghindari area tersebut,” ujarnya, sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia, Selasa, (21/04/2026).
Selain mendekat ke garis pantai, kapal-kapal militer dilaporkan kerap menahan hingga menembaki kapal nelayan lokal. Kondisi ini membuat aktivitas melaut warga nyaris terhenti karena kekhawatiran terhadap keselamatan jiwa.
Warga lainnya di Thandwe juga mengonfirmasi peningkatan jumlah kapal perang yang beroperasi di perairan setempat. “Sebelumnya, hanya ada sekitar dua kapal di sini secara rutin. Sekarang kami melihat tiga, bahkan terkadang empat kapal. Mereka bergerak mendekat ke pantai lalu menarik diri berulang kali. Senjata berat juga ditembakkan hampir setiap hari,” katanya.
Laporan dari media lokal menyebutkan sedikitnya enam kapal perang sempat mendekati muara sungai di Taungup sebelum melakukan pengintaian menggunakan drone dan kembali ke laut lepas. Aktivitas ini memperkuat indikasi peningkatan operasi militer berbasis laut.
Di sisi lain, tekanan udara juga meningkat dengan serangan terhadap sejumlah wilayah sipil, termasuk Kyauktaw, Ponnagyun, dan Mrauk-U. Serangan udara dilaporkan merusak fasilitas umum, tempat ibadah, serta menyebabkan korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga.
Seorang analis militer dari Kyaukphyu menilai kemampuan junta untuk merebut kembali wilayah yang telah dikuasai AA sangat terbatas. “Tidak akan mudah untuk merebutnya kembali. Paling-paling, mereka mungkin akan menggunakan serangan udara dan penghancuran target sipil,” ujarnya.
Hingga kini, AA dilaporkan telah menguasai sebagian besar wilayah Rakhine, termasuk 14 dari 17 kotapraja yang ada. Dalam pernyataan sebelumnya, pimpinan AA menegaskan ambisi untuk menguasai seluruh wilayah tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Situasi ini menandakan konflik di Myanmar memasuki fase baru dengan dominasi operasi laut dan udara, sementara warga sipil menjadi pihak paling terdampak dari meningkatnya intensitas pertempuran. []
Redaksi05

