KOLOMBO – Upaya pemberantasan korupsi di Sri Lanka memasuki fase baru setelah otoritas antikorupsi menangkap Yoshitha Rajapaksa, putra mantan presiden Mahinda Rajapaksa, atas dugaan penyalahgunaan dana negara untuk pelatihan militer di luar negeri. Penangkapan ini menambah daftar perkara hukum yang menjerat keluarga Rajapaksa, dinasti politik yang pernah mendominasi pemerintahan Sri Lanka.
Yoshitha Rajapaksa, 38 tahun, ditangkap pada Rabu (17/06/2026) terkait dugaan penggunaan dana negara saat menjalani karier sebagai perwira angkatan laut. Komisi Anti-Suap Sri Lanka menyatakan penyelidikan dilakukan atas dugaan kenaikan pangkat tanpa memenuhi syarat dan pemanfaatan dana pemerintah untuk mengikuti pelatihan perwira di Inggris.
Sebelum ditangkap, Yoshitha telah berstatus tersangka dalam dua perkara pencucian uang serta dikenai larangan bepergian ke luar negeri. Ia sebelumnya juga sempat dibebaskan dengan jaminan.
“Ia ditangkap atas tuduhan membantu dan bersekongkol, sehubungan dengan perekrutannya tanpa kualifikasi minimum, dan kemudian menggunakan dana negara untuk pelatihan di luar negeri,” kata komisi tersebut dalam sebuah pernyataan, sebagaimana dilansir AFP, Rabu, (17/06/2026).
Yoshitha diketahui pernah mengikuti pendidikan di Dartmouth, akademi angkatan laut bergengsi di Inggris. Kehadirannya di lembaga tersebut menuai kritik karena dinilai mengambil kesempatan yang seharusnya diberikan kepada kadet yang lolos berdasarkan prestasi. Saat itu, Mahinda Rajapaksa menjabat sebagai presiden Sri Lanka.
Kasus yang menjerat keluarga Rajapaksa kembali mendapat perhatian sejak Presiden Sri Lanka, Anura Kumara Dissanayake, memenangkan pemilihan presiden 2024 dengan agenda utama pemberantasan korupsi. Sejumlah anggota keluarga Rajapaksa dan orang-orang terdekatnya sebelumnya juga menghadapi berbagai tuduhan, mulai dari korupsi hingga pembunuhan, yang sebagian masih menunggu proses persidangan.
Selain kasus dugaan penyalahgunaan dana negara, Yoshitha juga menghadapi tuntutan pidana terkait sumber pendanaan pembelian rumah saat ayahnya berkuasa pada 2005-2015. Dalam penyelidikan, ia mengaku memperoleh dana dari penjualan berlian pemberian bibi buyutnya. Namun, kerabat tersebut disebut tidak dapat menjelaskan asal-usul batu berharga itu.
Yoshitha juga masih menghadapi perkara lain terkait pembelian jaringan televisi miliknya. Penangkapan terbaru ini dinilai menjadi ujian bagi komitmen pemerintah Sri Lanka dalam memperkuat akuntabilitas dan menegakkan hukum tanpa pandang bulu terhadap tokoh politik berpengaruh. []
Redaksi05

