Putusan Pengadilan Ubah Rute Demo, 40 Stasiun Metro Paris Terdampak

Putusan Pengadilan Ubah Rute Demo, 40 Stasiun Metro Paris Terdampak

Bagikan:

Putusan pengadilan yang mengizinkan demonstrasi melalui jalur Bastille–Nation memicu perubahan pengamanan dan pembatasan transportasi di Paris, termasuk penutupan 40 stasiun metro serta penghentian sejumlah layanan publik.

PARIS – Rencana aksi unjuk rasa di Paris, Prancis, pada Sabtu (31/10/2026), memicu perubahan besar pada layanan transportasi publik setelah pengadilan administratif mengizinkan massa kembali menggunakan jalur demonstrasi Bastille–Nation. Kebijakan tersebut berdampak pada penutupan 40 stasiun metro, penghentian sementara sejumlah layanan transportasi, serta peningkatan pengamanan di sejumlah titik kota.

Perubahan rute demonstrasi terjadi setelah Pengadilan Administratif Paris pada Jumat (30/10/2026) menangguhkan keputusan Prefektur Polisi yang sebelumnya melarang jalur antara Place de la Bastille dan Place de la Nation. Putusan itu membuka kembali kesempatan bagi kelompok serikat pekerja untuk menggelar aksi melalui jalur yang telah mereka ajukan.

Namun, kepastian rute demonstrasi masih bergantung pada proses banding yang diajukan Prefektur Polisi kepada Dewan Negara (Conseil d’État). Sebagaimana dilansir Franceinfo, Jumat (30/10/2026), keputusan atas permohonan banding tersebut diperkirakan keluar pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

Sebelumnya, kepolisian mengeluarkan keputusan Nomor 2026-01481 dan Nomor 2026-01484 yang melarang rute demonstrasi yang diajukan Konfederasi Umum Buruh (Confédération générale du travail/CGT) dan kelompok Gilets jaunes. Peserta aksi diarahkan menggunakan jalur alternatif di kawasan Boulevard des Maréchaux, mulai dari Porte de Bagnolet hingga Porte de Charenton.

Sejumlah organisasi pekerja dan mahasiswa kemudian menggugat kebijakan tersebut. Gugatan diajukan oleh CGT, Force Ouvrière (FO), Federasi Serikat Pekerja Bersatu (Fédération syndicale unitaire/FSU), Solidaires, Federasi Asosiasi Umum Mahasiswa (FAGE), Union Étudiante, dan Persatuan Nasional Mahasiswa Prancis (UNEF).

Dalam putusannya, hakim mengabulkan gugatan organisasi serikat pekerja sehingga demonstrasi dapat kembali menggunakan jalur Bastille–Nation. Massa dijadwalkan berkumpul di Place de la Bastille pada pukul 14.00 waktu setempat sebelum bergerak menuju Place de la Nation melalui kawasan timur Paris.

Meski demikian, keputusan tersebut belum sepenuhnya mengakhiri polemik mengenai pengaturan aksi. Kepala kepolisian, Laurent Nuñez, tetap mengajukan banding dengan mempertimbangkan potensi gangguan keamanan dan kerusakan yang pernah terjadi di kawasan tersebut pada 17 Oktober 2026.

Sementara itu, rencana demonstrasi kelompok Gilets jaunes melalui jalur Bastille–Concorde masih dilarang. Begitu pula rencana aksi duduk pada pukul 14.00 di depan Gedung Majelis Nasional (Assemblée nationale) di distrik ketujuh Paris. Hingga informasi terakhir dalam laporan tersebut, belum ada putusan pengadilan yang mengubah larangan itu.

Di luar persoalan hukum dan penentuan rute demonstrasi, pembatasan transportasi menjadi salah satu dampak paling signifikan bagi aktivitas masyarakat Paris.

Otoritas transportasi Régie Autonome des Transports Parisiens (RATP) mengumumkan penutupan 40 stasiun metro pada Sabtu (31/10/2026), mulai pukul 05.30 hingga 20.00 waktu setempat. Penutupan dilakukan secara bertahap di berbagai kawasan, termasuk Champs-Élysées, Concorde, Madeleine, République, Bastille, Châtelet-Les Halles, dan Opéra.

Sejumlah stasiun di kawasan tepi kiri Sungai Seine serta sekitar Place de la Nation juga masuk dalam daftar penutupan. Selain itu, operasional jalur metro 6 dan 12 mengalami penghentian sebagian.

Gangguan juga terjadi pada layanan kereta Réseau Express Régional (RER). Stasiun Charles de Gaulle–Étoile pada jalur RER A ditutup sepanjang hari sehingga kereta hanya melintas tanpa berhenti. Sementara itu, stasiun Châtelet-Les Halles dijadwalkan ditutup mulai pukul 20.00.

Untuk transportasi trem, layanan jalur T3a dan T3b dihentikan mulai pukul 11.00 di kedua sisi kawasan Porte de Vincennes.

Layanan sepeda publik Vélib’ juga terdampak. Sebanyak 110 stasiun penyewaan sepeda telah ditutup sejak Jumat dan dijadwalkan kembali beroperasi secara bertahap mulai Minggu malam hingga Senin.

Berbagai pembatasan tersebut menunjukkan besarnya pengaruh penyelenggaraan demonstrasi terhadap mobilitas masyarakat di ibu kota Prancis. Penutupan stasiun dan penghentian layanan dilakukan untuk mendukung pengamanan sekaligus mengantisipasi potensi gangguan selama berlangsungnya aksi.

Selain pengaturan transportasi, kebijakan keamanan akhir pekan Halloween juga mencakup pemberlakuan jam malam di Paris dan sejumlah wilayah pinggiran kota bagian dalam. Namun, rincian wilayah, waktu pemberlakuan, serta ketentuan khusus jam malam tidak dijelaskan secara lengkap dalam informasi yang tersedia.

Perkembangan terakhir menunjukkan bahwa hasil banding Prefektur Polisi menjadi faktor penting dalam menentukan pelaksanaan demonstrasi. Jika banding ditolak, massa dapat menggunakan rute Bastille–Nation. Sebaliknya, apabila banding dikabulkan, jalur alternatif antara Porte de Bagnolet dan Porte de Charenton berpotensi kembali diberlakukan.

Situasi ini membuat masyarakat dan pengguna transportasi publik perlu memperhatikan pengumuman resmi otoritas setempat sebelum melakukan perjalanan. Kepastian rute aksi dan pembukaan kembali layanan transportasi diharapkan dapat meminimalkan gangguan aktivitas warga selama rangkaian demonstrasi berlangsung. []

Redaksi 01

Bagikan:
Hukum Internasional