TEHERAN – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali meningkat setelah muncul laporan mengenai dugaan peluncuran drone oleh Iran ke arah kapal-kapal komersial yang melintas pada Kamis (11/06/2026) waktu setempat atau Jumat (12/06/2026) dini hari. Di saat bersamaan, muncul perbedaan klaim antara pihak Amerika Serikat (AS) dan Iran terkait situasi yang terjadi di jalur pelayaran strategis tersebut.
Seorang pejabat senior AS menyatakan kepada stasiun televisi Fox News bahwa Iran diduga berupaya menyerang kapal komersial yang sedang melakukan transit di Selat Hormuz. Menurut keterangan tersebut, pasukan AS disebut telah menembak jatuh dua drone serangan satu arah yang diklaim berasal dari Iran.
Pernyataan itu muncul ketika situasi kawasan tengah diwarnai eskalasi pascaserangan AS ke wilayah selatan Iran pada awal pekan. Sebelumnya, Teheran sempat menyampaikan penutupan Selat Hormuz dan memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang melintas tanpa izin.
Namun, militer Iran menyampaikan versi berbeda. Otoritas Iran menyebut pihaknya telah menghentikan “kapal pelanggar” yang mencoba melewati Selat Hormuz dan tidak mengonfirmasi adanya serangan terhadap kapal-kapal komersial sebagaimana dituduhkan pihak AS.
Di tengah situasi tersebut, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan bahwa negaranya telah mencapai kesepakatan damai besar dengan Iran untuk mengakhiri konflik di kawasan Timur Tengah. Pengumuman itu juga diikuti keputusan membatalkan agenda serangan udara ke wilayah Iran yang sebelumnya disebut telah disiapkan.
Akan tetapi, klaim tersebut segera mendapat penolakan dari Teheran. Media pemerintah Iran, Fars, menyatakan otoritas negara itu belum menyetujui dokumen apa pun terkait nota kesepahaman (memorandum of understanding/MOU) dengan AS.
Pemerintah Iran bahkan menilai perubahan langkah yang diumumkan Trump lebih mencerminkan perubahan strategi dibanding tercapainya kesepakatan resmi. Menurut laporan yang berkembang, sebagaimana dilansir Cnbc Indonesia, Jumat, (12/06/2026), pihak Iran menilai belum ada tambahan poin baru dalam rancangan kesepakatan yang sebelumnya diajukan.
Perkembangan tersebut menunjukkan situasi keamanan di Selat Hormuz masih berlangsung dinamis dengan informasi yang terus berkembang dari kedua pihak. Jalur laut tersebut selama ini menjadi salah satu titik paling strategis bagi perdagangan dan distribusi energi global sehingga setiap eskalasi berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan dan aktivitas pelayaran internasional. []
Redaksi05

