JAKARTA – Persidangan perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook yang menjerat mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, mengungkap dinamika pengambilan kebijakan di lingkungan kementerian. Dalam sidang yang digelar Selasa (14/04/2026), saksi Iwan Syahril menyebut kepemimpinan Nadiem mendorong budaya diskusi terbuka hingga menjadi kebiasaan baru di kalangan birokrasi.
Saksi yang merupakan Staf Khusus Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Bidang Pembelajaran periode 2019–2020 itu menjelaskan, pada awal masa kepemimpinan Nadiem, pola kerja yang lebih terbuka sempat menimbulkan resistensi di internal kementerian.
“Awalnya memang mengagetkan. Ada keengganan, tapi lama-lama menjadi kebiasaan baru. Bahkan, pejabat eselon I bisa menyampaikan pendapat dan ditanggapi dengan lapang dada,” ujar Iwan dalam persidangan.
Menurutnya, setiap kebijakan tidak lahir dari instruksi sepihak, melainkan melalui proses diskusi berlapis yang melibatkan pejabat terkait hingga direktorat teknis. Dari pembahasan awal, gagasan kemudian diturunkan ke tingkat direktorat untuk disusun menjadi rancangan kebijakan.
Iwan menuturkan, proses tersebut tidak berhenti pada tahap perumusan awal, melainkan melalui tahapan iterasi atau pematangan secara berkelanjutan, mulai dari aspek substansi, teknis operasional, hingga kesesuaian dengan regulasi yang berlaku.
“Prosesnya tidak langsung jadi. Ide dimatangkan terus, dilihat tantangan di lapangan, sampai siap dijalankan,” ujar dia.
Dalam kesaksiannya, Iwan juga membantah adanya tekanan dari pimpinan terhadap jajaran di bawahnya. Ia menegaskan tidak pernah menyaksikan intimidasi ataupun ancaman mutasi dalam proses pengambilan keputusan.
“Yang saya alami justru saling challenge dalam diskusi,” ujar dia.
Terkait dakwaan dugaan aliran dana kepada saksi, Iwan menegaskan dirinya tidak pernah menerima uang dalam rentang 2020 hingga 2025. Ia juga menyatakan tidak terlibat dalam aspek teknis pengadaan maupun penganggaran proyek Chromebook yang menjadi pokok perkara.
Selain itu, ia mengaku tidak mengetahui adanya rencana kerja sama dengan pihak tertentu, termasuk Google. Namun, ia membenarkan pernah menghadiri pertemuan dengan pimpinan Microsoft dunia, Satya Nadella, sekitar 2019 hingga awal 2020.
Menurut Iwan, pertemuan tersebut hanya membahas pengembangan sistem manajemen talenta guru dan tidak menghasilkan kesepakatan kerja sama.
“Tidak ada kesepakatan, hanya diskusi. Dalam konteks pandemi, Microsoft juga membantu melalui program pelatihan guru,” tutur dia.
Perkara ini sebagaimana diberitakan Kompas, Selasa, (14/04/2026), masih terus bergulir di pengadilan untuk mengungkap peran masing-masing pihak dalam dugaan korupsi pengadaan perangkat teknologi pendidikan tersebut. []
Redaksi05

