Serangan siber yang menyasar sistem pendingin supermarket di sejumlah negara membuat produk makanan berisiko rusak, memicu penarikan persediaan, dan menimbulkan kerugian bagi jaringan ritel.
EROPA – Serangan siber terhadap sistem pendingin supermarket di sejumlah negara Eropa memicu kekhawatiran terhadap keamanan penyimpanan pangan. Peretasan yang diduga mengubah pengaturan suhu lemari es dan freezer membuat berbagai produk makanan berisiko rusak sehingga sejumlah jaringan ritel terpaksa menarik persediaan dari gerai terdampak.
Gangguan tersebut dilaporkan terjadi di Swedia, Belgia, Belanda, Luksemburg, hingga Irlandia. Serangan menyasar perangkat pendingin yang digunakan untuk menjaga kualitas makanan, termasuk produk yang membutuhkan penyimpanan pada suhu rendah.
Di Swedia, jaringan ritel Coop mengonfirmasi kepada surat kabar Aftonbladet bahwa enam gerainya mengalami gangguan pada Senin, 1 November 2026. Sementara itu, Ahold Delhaize melaporkan puluhan supermarket miliknya di Belgia dan Luksemburg terdampak masalah pada lemari es dan freezer akibat insiden teknologi informasi (TI). Juru bicara perusahaan, Sarah De Meester, menyatakan penyelidikan sedang dilakukan.
Gangguan serupa juga dilaporkan terjadi di Belgia. Surat kabar Le Soir menyebut puluhan gerai mengalami masalah, termasuk lima toko Spar, sejumlah gerai Shop & Go yang terintegrasi dengan stasiun pengisian bahan bakar Q8, serta beberapa minimarket Proxy Delhaize.
Chief Executive Officer (CEO) Sabcobel, Stephan Moelans, mengatakan perusahaan segera mengerahkan teknisi untuk menangani gangguan sejak dini hari.
“Kami memobilisasi teknisi mulai pukul 01.00 dini hari. Kami menghabiskan semalam untuk memutus sambungan instalasi yang terdampak,” kata CEO Sabcobel, Stephan Moelans.
Laporan dari Irlandia juga menyebutkan sebanyak 13 supermarket SuperValu mengalami gangguan pada sistem pendingin. Juru bicara perusahaan menjelaskan bahwa masalah tersebut hanya berdampak pada jenis perangkat tertentu. Sistem pemantauan internal mendeteksi gangguan sehingga perusahaan dapat segera mengambil tindakan.
“Insiden ini terbatas pada model pendingin tertentu. Sistem pengawas kami memberi peringatan mengenai ini dan kami langsung mengambil tindakan,” kata juru bicara perusahaan.
Sebagai langkah pencegahan, sejumlah peritel menarik produk makanan dari lemari es dan freezer yang terdampak. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menghindari risiko konsumsi produk yang kemungkinan telah disimpan pada suhu tidak sesuai standar keamanan pangan.
“Keamanan konsumen adalah prioritas utama kami, dan konsumen bisa tenang karena produk kami telah disimpan di suhu yang aman,” ucapnya, sambil menambahkan bahwa penyelidikan telah dimulai menyusul peristiwa ini.
Rangkaian gangguan tersebut sebagaimana dilansir The Guardian, Selasa, (03/11/2026). Sebelumnya, pada Oktober, kepolisian Prancis juga melaporkan serangan siber terhadap sistem pendingin di sekitar 700 supermarket. Peretasan itu diduga dilakukan dengan mengubah pengaturan suhu ribuan lemari es, freezer, dan perangkat pendingin dari jarak jauh.
Dalam insiden di Prancis, suhu perangkat yang semula berada pada kisaran minus 27 derajat Celsius dilaporkan meningkat hingga lebih dari 50 derajat Celsius. Sejumlah jaringan ritel besar, seperti Intermarché, Coopérative U, Carrefour, Leclerc, dan Monoprix, termasuk dalam daftar gerai terdampak.
Kerusakan tersebut memaksa sejumlah supermarket memusnahkan persediaan daging, susu, dan makanan beku dalam jumlah besar. Kerugian setiap toko diperkirakan mencapai puluhan ribu euro hingga lebih dari 130.000 euro. Bahkan, dua gerai di wilayah Alsace dilaporkan mengalami kerugian hingga 270.000 euro.
Ancaman terhadap sistem pendingin juga dilaporkan muncul di Amerika Serikat (AS). Pada akhir Oktober, empat pejabat AS menyampaikan bahwa sejumlah perangkat freezer di pangkalan militer mengalami kerusakan sistem pada Agustus. Sedikitnya enam komisariat militer terdampak gangguan tersebut.
Pentagon menduga insiden di pangkalan militer itu berkaitan dengan metode peretasan yang sebelumnya digunakan dalam serangan terhadap supermarket di Prancis.
Meluasnya gangguan ini menunjukkan bahwa sistem pendingin yang terhubung dengan teknologi digital dapat menjadi sasaran serangan siber dengan dampak langsung terhadap operasional bisnis dan keamanan pangan. Penyelidikan di berbagai negara diharapkan dapat mengungkap pola serangan serta mendorong penguatan perlindungan sistem pengendali suhu agar kerusakan serupa tidak kembali mengancam pasokan makanan dan konsumen. []
Redaksi 03

