WASHINGTON DC – Menurunnya stok rudal pertahanan udara Amerika Serikat (AS) setelah membantu Israel menghadapi serangan Iran mulai memicu kekhawatiran di kalangan sekutu Washington. Jepang dan Korea Selatan disebut menjadi negara yang paling mencemaskan dampak berkurangnya persediaan sistem pertahanan milik AS di tengah ancaman dari China dan Korea Utara.
Dalam konflik Iran-Israel, AS dilaporkan telah menggunakan sekitar 200 rudal pencegat Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) atau hampir separuh dari total persediaannya. Selain itu, militer AS juga menembakkan lebih dari 100 rudal Standard Missile-3 dan Standard Missile-6 untuk membantu sistem pertahanan Israel.
“Secara total, AS menembakkan sekitar 120 rudal pencegat lebih banyak dan menghadapi dua kali lebih banyak rudal Iran,” kata seorang pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, sebagaimana dilansir The Telegraph melalui Kompas, Kamis (21/05/2026).
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran di Pentagon terkait kesiapan militer AS menghadapi potensi konflik lain di kawasan Indo-Pasifik maupun Semenanjung Korea.
Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa Israel dan AS telah berbagi tanggung jawab pertahanan secara seimbang selama konflik berlangsung.
“Baik Israel maupun Amerika Serikat memikul beban pertahanan secara adil,” ujar Parnell.
Ia menyebut rudal pencegat balistik bukan satu-satunya sistem yang dimiliki AS dalam mempertahankan wilayah dan sekutunya.
“Rudal pencegat balistik hanyalah satu alat dalam jaringan besar sistem dan kemampuan yang membentuk pertahanan udara terintegrasi dan berlapis,” katanya.
Sementara itu, Kedutaan Besar Israel di Washington menilai kerja sama pertahanan kedua negara memberikan keuntungan strategis bersama dalam menghadapi ancaman Iran.
“AS tidak memiliki mitra lain dengan kemauan militer, kesiapan, kepentingan bersama, dan kemampuan seperti Israel,” kata juru bicara Kedutaan Israel.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menghadapi kritik dari sebagian pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA). Mereka menilai keterlibatan AS dalam konflik Timur Tengah bertentangan dengan slogan “America First” yang selama ini diusung Trump.
Meski sempat muncul wacana gencatan senjata, ketegangan antara Iran dan Israel disebut masih rapuh. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya juga sempat mengguncang pasokan minyak dunia dan memicu kenaikan harga energi global.
Trump menegaskan AS siap kembali melanjutkan operasi militer apabila proses perundingan damai tidak menghasilkan kesepakatan.
“Percayalah kepada saya, jika kami tidak mendapatkan jawaban yang tepat, semuanya akan bergerak sangat cepat. Kami semua siap bergerak,” kata Trump kepada wartawan.
Pemerintah AS kini terus memantau kondisi pertahanan udara nasional sambil memperhitungkan kebutuhan penguatan stok rudal untuk menghadapi berbagai potensi ancaman global di masa mendatang. []
Redaksi05

