ABU DHABI – Ketegangan di kawasan Teluk kembali meningkat setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim berhasil menggagalkan serangan udara yang diduga diluncurkan dari Iran pada Jumat (08/05/2026) waktu setempat. Serangan tersebut menyebabkan sedikitnya tiga orang mengalami luka-luka meski rudal dan drone berhasil dicegat sistem pertahanan udara negara itu.
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan pihaknya mencegat dua rudal balistik dan tiga pesawat nirawak atau drone yang terdeteksi mengarah ke wilayah negara tersebut. Namun, otoritas belum mengungkap lokasi pasti serangan maupun identitas korban luka.
Otoritas UEA sempat mengeluarkan peringatan darurat kepada masyarakat pada Jumat pagi sekitar pukul 06.43 waktu setempat. Warga diminta tetap berada di lokasi aman sambil menunggu informasi resmi pemerintah terkait perkembangan situasi keamanan.
Konflik di kawasan Timur Tengah terus memanas sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026 setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Teheran kemudian membalas dengan serangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah target di Israel serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS, termasuk UEA.
Berdasarkan data otoritas setempat, sejak perang berlangsung UEA telah menghadapi sedikitnya 551 rudal balistik, 29 rudal jelajah, dan 2.263 drone. Serangan-serangan tersebut juga menyebabkan korban jiwa, termasuk dua personel militer UEA dan seorang kontraktor sipil asal Maroko yang bekerja untuk militer.
Selain itu, sedikitnya 10 warga sipil dilaporkan tewas dan 230 orang mengalami luka-luka akibat rentetan serangan yang menghantam wilayah UEA selama konflik berlangsung.
Situasi sempat mereda setelah gencatan senjata antara AS dan Iran diberlakukan pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan. Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tersebut tanpa batas waktu yang ditentukan.
Namun, kondisi kembali memanas setelah Iran disebut melancarkan serangan baru ke wilayah UEA pada Senin (04/05/2026). Pemerintah Abu Dhabi mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai “eskalasi berbahaya” serta menegaskan hak UEA untuk melakukan pembalasan.
Iran sendiri membantah keterlibatan pasukan militernya dalam serangan ke wilayah UEA tersebut.
“Kementerian Pertahanan UEA dalam pernyataan via media sosial X, seperti dilansir Al Arabiya dan The National, Sabtu (09/05/2026), mengatakan bahwa sedikitnya dua rudal balistik dan tiga drone, yang menurut UEA ditembakkan oleh Iran, dicegat oleh sistem pertahanan udara negaranya pada Jumat (08/05/2026),” sebagaimana diberitakan Detik, Sabtu (09/05/2026). []
Redaksi05

