Bukan Sekadar Makanan, Gaya Hidup Halal Sentuh Keuangan Gen Z

Bukan Sekadar Makanan, Gaya Hidup Halal Sentuh Keuangan Gen Z

Bagikan:

Generasi Z di Surakarta didorong membangun kecakapan mengelola keuangan, menjaga kesehatan mental, dan menggunakan media sosial secara bijak sebagai bekal menghadapi masa depan dan dunia kerja.

SURAKARTA – Kemampuan mengelola keuangan dan menjaga jejak digital dinilai menjadi bagian penting yang perlu dipahami Generasi Z sejak bangku sekolah. Selain membedakan kebutuhan dan keinginan, pelajar juga diingatkan agar tidak mudah terjebak masalah keuangan serta mempertimbangkan setiap aktivitas yang dilakukan di media sosial.

Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani menyampaikan hal tersebut saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta dan Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di Sekolah Menengah Atas (SMA) Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Sabtu (26/09/2026).

Astrid yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina MES Surakarta mengatakan kecakapan anak muda dalam menjalani kehidupan perlu dibangun secara menyeluruh, termasuk dalam menentukan pilihan, mengelola uang, menjaga kesehatan, dan menggunakan media sosial.

“Semua harus memiliki cita-cita. Untuk meraih masa depan yang sukses, kita perlu membangun gaya hidup yang halal, cerdas dan sehat,” kata Astrid.

Menurut Astrid, konsep gaya hidup halal tidak sebatas pemilihan makanan atau produk yang dikonsumsi. Prinsip tersebut juga berkaitan dengan berbagai keputusan yang dibuat anak muda dalam kehidupan sehari-hari.

“Apa yang kita makan, dengan siapa kita berteman, apa yang kita tonton, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana menggunakan uang, bagaimana memperlakukan orang lain, sampai apa yang kita upload di media sosial, semuanya perlu kita pertimbangkan,” ujarnya.

Salah satu kemampuan yang ditekankan ialah kecakapan finansial. Astrid mengajak para pelajar mulai membiasakan diri mencatat pemasukan dan pengeluaran, kemudian memilah kebutuhan dan keinginan sebelum menggunakan uang.

Ia juga mengingatkan adanya risiko masalah keuangan yang dapat muncul ketika anak muda berusaha mengikuti gaya hidup tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial, termasuk potensi terjebak pinjaman online.

“Jangan sampai karena ingin mengikuti gaya hidup, kita justru terjebak masalah keuangan. Mulai dari sekarang belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan,” tutur Astrid.

Selain persoalan keuangan, kesehatan mental juga menjadi bagian dari kesiapan Generasi Z menghadapi masa depan. Menurut Astrid, tekanan yang dihadapi anak muda membutuhkan kemampuan untuk mengenali diri sendiri dan tetap membangun sikap optimistis.

“Tekanan yang dihadapi Gen-Z saat ini tidak sedikit. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Kita harus optimis dan mampu mengenali diri sendiri,” katanya.

Astrid juga mengingatkan pelajar agar lebih berhati-hati menggunakan gawai dan media sosial. Menurutnya, aktivitas di ruang digital dapat meninggalkan jejak yang berpotensi diperhatikan ketika seseorang memasuki dunia kerja.

“Media sosial bukan hanya tempat kita berekspresi. Jejak digital kita juga bisa dilihat ketika memasuki dunia kerja. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum mengunggah sesuatu,” ujarnya.

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi pelajar untuk memahami gaya hidup halal dari berbagai aspek. Materi tidak hanya mencakup pilihan produk, tetapi juga perencanaan keuangan dan pengenalan layanan perbankan syariah bagi remaja.

Dani Ilham Pratama dari Paragon Corp membahas pemilihan produk halal, Salwaa Fauziyyah Jatmiko dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membahas Islamic financial planning, sedangkan H. Muhammad Ismail dari Bank Syariah Indonesia membahas perbankan syariah untuk remaja.

Turut hadir Ketua Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Solo Raya Zen Assegaf Defni Febrian serta narasumber bidang kesehatan mental Rohmatingtyas Hidayah Setyaningrum dan moderator Zahra Noor Eriza.

Astrid berharap pemahaman yang diperoleh pelajar tidak berhenti sebagai materi kegiatan, tetapi diterapkan dalam kebiasaan sehari-hari. Kemampuan memilih, mengelola keuangan, menjaga kesehatan diri, dan menggunakan media sosial secara bertanggung jawab diharapkan menjadi bagian dari persiapan Generasi Z membangun masa depan.

“Halal lifestyle harus menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Jadikan itu sebagai bagian dari cara kita memilih, mengambil keputusan dan membangun masa depan,” pungkasnya. []

Redaksi08.

Bagikan:
Headlines Nasional