Modernisasi Tenggarong didorong berjalan seiring dengan penguatan budaya, kearifan lokal, partisipasi masyarakat, dan pembangunan yang manfaatnya dapat dirasakan secara nyata oleh warga.
ADVERTORIAL – Modernisasi Tenggarong didorong tidak hanya menghadirkan perubahan fisik kota, tetapi juga menempatkan budaya dan kearifan lokal dalam ruang publik, pendidikan, pemerintahan, hingga kebijakan pembangunan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menilai identitas daerah harus tetap menjadi karakter utama Tenggarong di tengah perkembangannya sebagai pusat pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan.
Dorongan tersebut disampaikan Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani dalam Rapat Paripurna Istimewa memperingati Hari Jadi ke-244 Tenggarong di Kantor DPRD Kukar, Senin (28/09/2026). Paripurna tersebut menjadi momentum untuk menempatkan sejarah dan kebudayaan bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai bagian dari arah pembangunan Kukar.
Ahmad Yani mengatakan perjalanan panjang Tenggarong harus menjadi sumber pembelajaran dalam menentukan kebijakan pembangunan. Menurutnya, kemajuan kota tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan keterhubungan dengan sejarah dan identitas daerah.
“Jangan pernah melupakan sejarah. Karena dari sejarah itulah kita mengetahui dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah,” ujar Ahmad Yani.
Ia menilai sejarah memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat. Karena itu, warisan budaya, tradisi, serta kearifan lokal perlu terus dipelihara sekaligus dikembangkan agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Sejarah bukan hanya untuk kita kenang, tetapi harus menjadi pembelajaran dan pijakan dalam menentukan arah pembangunan ke depan,” katanya.
Menurut Ahmad Yani, pembangunan Tenggarong tidak cukup diukur dari pertumbuhan infrastruktur maupun perubahan wajah kota. Identitas budaya juga perlu mendapatkan ruang yang nyata dalam kehidupan masyarakat sehingga modernisasi tidak membuat karakter Kota Raja semakin terpinggirkan.
Tenggarong memiliki perjalanan sejarah yang erat dengan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Keraton, tradisi kesultanan, kawasan bersejarah, serta berbagai peninggalan budaya menjadi bagian dari identitas kota yang dinilai perlu terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, pelestarian kawasan bersejarah dan ruang budaya dipandang memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar menjaga peninggalan masa lalu. Upaya tersebut juga dapat memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap daerah sekaligus menjadi bagian dari pengembangan kehidupan sosial dan kebudayaan.
Ahmad Yani turut mengingatkan pentingnya menghargai kontribusi para pendahulu dalam membangun Kukar dan Tenggarong.
“Kita harus menghargai jasa para pendahulu. Apa yang kita nikmati hari ini tidak terlepas dari perjuangan dan kontribusi mereka dalam membangun daerah ini,” ucapnya.
Ia menyebut kepala daerah terdahulu, tokoh masyarakat, ulama, intelektual, serta masyarakat memiliki peran masing-masing dalam perjalanan pembangunan daerah. Pengalaman tersebut, menurutnya, dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus pembelajaran dalam menentukan kebijakan ke depan.
Ahmad Yani juga mendorong pembangunan kebudayaan dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan. Kebudayaan dinilai tidak seharusnya hanya mendapatkan ruang ketika berlangsung peringatan hari jadi maupun kegiatan seremonial.
“Peringatan budaya tidak boleh terjebak hanya pada seremoni, tetapi harus menjadi energi sosial yang menggerakkan pembangunan daerah,” tegasnya.
Salah satu langkah yang dinilai penting adalah membawa nilai budaya dan kearifan lokal lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Ruang publik, pendidikan, pelayanan pemerintahan, serta kebijakan pembangunan dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas tersebut.
“Bagaimana budaya lokal dan kearifan lokal ini bisa kita tempatkan dalam ruang publik, dalam pendidikan, dalam pemerintahan, sehingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas daerah,” tuturnya.
Menurut Ahmad Yani, kearifan lokal juga perlu terus diidentifikasi, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas agar mampu menjadi kekuatan identitas Kukar di tengah perkembangan kawasan Nusantara.
Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan pemerintah, lembaga adat, dunia pendidikan, komunitas, generasi muda, pelaku kebudayaan, serta masyarakat. Kolaborasi diperlukan agar pelestarian budaya tidak berjalan sendiri-sendiri dan dapat terhubung dengan agenda pembangunan daerah.
Selain menjaga identitas, Ahmad Yani menekankan pentingnya memastikan pembangunan menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kebijakan pemerintah juga dinilai perlu menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memberikan masukan dan melakukan evaluasi.
“Pembangunan harus kita ukur dari hasil dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan perlu mendapatkan masukan dan umpan balik dari masyarakat jelasnya,” jelasnya.
Sebagai ibu kota Kukar, Tenggarong memiliki fungsi strategis sebagai pusat pemerintahan, sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Posisi tersebut membuat pembangunan kota dituntut mampu menghadirkan lingkungan yang nyaman, bersih, indah, dan maju tanpa menghilangkan karakter lokal yang membedakannya dari daerah lain.
Rapat paripurna tersebut juga dihadiri Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, jajaran DPRD Kukar, serta perwakilan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dari daerah pemilihan Kukar.
Sejumlah undangan dari luar daerah turut hadir, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) beserta jajaran, perwakilan DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), serta Sekretariat DPRD Kabupaten Bulungan. Sejumlah tokoh dan mantan kepala daerah Kukar juga hadir, termasuk Bupati Kukar periode 2010–2015 Gufron Yusuf dan Bupati Kukar periode 2019–2024 Edi Damansyah.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menekankan pentingnya kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam menghadapi tantangan pembangunan daerah. Ia mengajak pemerintah dan masyarakat mempertahankan semangat pembangunan meskipun kondisi anggaran membutuhkan efisiensi.
“Efisiensi anggaran bukan berarti efisiensi semangat pembangunan,” tegas Aulia.
Peringatan Hari Jadi ke-244 Tenggarong dengan demikian menjadi momentum untuk mendorong pembangunan kota yang tidak hanya mengejar kemajuan fisik, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekaligus mempertahankan sejarah, budaya, dan kearifan lokal sebagai identitas Tenggarong di tengah perubahan zaman. []

