WASHINGTON DC – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, membatalkan seluruh agenda pribadinya, termasuk menghadiri pernikahan putranya Donald Trump Jr, setelah situasi negosiasi damai antara AS dan Iran memasuki fase krusial. Trump memilih kembali ke Gedung Putih pada Jumat (22/05/2026) guna memantau langsung perkembangan diplomatik dan opsi keamanan terkait konflik tersebut.
Keputusan mendadak itu diambil usai Trump menggelar rapat tertutup bersama jajaran kabinet keamanan nasional sebelum bertolak dari Suffern, New York. Dalam pertemuan tersebut, Trump menerima laporan mengenai berbagai opsi diplomatik hingga langkah militer terhadap Iran di tengah mandeknya pembicaraan damai.
Situasi memanas setelah Iran menolak tuntutan AS terkait pembahasan program nuklir dan cadangan uranium yang diperkaya. Penolakan itu dinilai memperbesar potensi kegagalan negosiasi yang tengah berlangsung melalui mediator Pakistan.
Trump bahkan disebut mempertimbangkan opsi serangan militer apabila tidak ada kemajuan signifikan dalam 24 jam ke depan. Akibat kondisi tersebut, agenda pribadi Presiden AS di Bedminster, New Jersey, hingga perjalanan ke Bahama untuk menghadiri pernikahan anaknya dibatalkan.
“Saya sangat ingin bersama putra saya, Don Jr, dan anggota terbaru dari Keluarga Trump, calon istrinya, Bettina,” papar Trump.
Namun, Trump menyatakan agenda keluarga tersebut harus ditunda karena situasi pemerintahan yang mendesak. Ia menilai kehadirannya di Washington DC sangat penting pada momentum tersebut.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Trump sempat menyampaikan optimisme terkait peluang berakhirnya konflik dengan Iran saat berpidato di Suffern, New York, sebagaimana dilansir Kompas, Sabtu, (23/05/2026).
Dalam pidatonya, Trump menyebut konflik dengan Iran akan segera berakhir dan harga minyak dunia diperkirakan menurun. Meski demikian, ia tidak menjelaskan secara rinci perkembangan terbaru proses negosiasi.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa pembicaraan damai tidak akan mencapai kesepakatan apabila AS terus mempersoalkan isu nuklir Iran.
“Negosiasi berfokus pada pengakhiran perang, dan isu-isu yang berkaitan dengan masalah nuklir tidak akan dibahas secara rinci pada tahap ini,” ujar Baghaei kepada media pemerintah Iran, IRNA.
“Oleh karena itu, jika kami mencoba masuk ke dalam rincian masalah ini pada tahap sekarang, kami tidak akan mencapai kesimpulan,” lanjutnya.
Baghaei juga menyebut tuntutan AS terkait pembatasan ambisi nuklir Iran sebagai langkah yang tidak masuk akal dan berlebihan. Ia menilai sikap tersebut menjadi salah satu penyebab runtuhnya proses negosiasi sebelumnya.
Pernyataan senada disampaikan sumber negosiator Iran kepada kantor berita semi-resmi Tasnim. Menurut sumber tersebut, fokus utama pembahasan saat ini hanyalah mengakhiri perang.
“Diskusi dan konsultasi mengenai isu-isu yang dipersengketakan masih berlangsung, dan hasil akhir belum tercapai,” ungkap sumber tersebut.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengakui adanya perkembangan komunikasi antara kedua negara melalui mediator Pakistan, meski proses diplomasi dinilai masih panjang.
“Ada beberapa kemajuan. Saya tidak akan melebih-lebihkannya. Saya tidak akan mengecilkannya,” kata Rubio kepada wartawan.
“Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan. Kita belum sampai di sana. Saya berharap kita bisa mencapainya,” pungkasnya. []
Redaksi05

