Dunia Khawatir, Konflik Israel-Lebanon Kian Memanas Meski Ada Gencatan Senjata

Dunia Khawatir, Konflik Israel-Lebanon Kian Memanas Meski Ada Gencatan Senjata

Bagikan:

LEBANON SELATAN – Meningkatnya operasi militer Israel di wilayah Lebanon selatan memicu kekhawatiran internasional terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut bahkan mendorong Prancis meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar pertemuan darurat guna membahas eskalasi yang terjadi meski gencatan senjata masih berlaku.

Ketegangan meningkat setelah Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan militer negaranya memperluas operasi darat di Lebanon selatan. Keputusan itu diumumkan pada Minggu (31/05/2026) dan menjadi babak terbaru dalam konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan operasi militer akan diperluas ke wilayah yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Hizbullah.

“Saya menginstruksikan (militer) untuk memperluas manuver daratnya di Lebanon,” kata Netanyahu, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, Senin (01/06/2026).

Langkah tersebut terjadi ketika Amerika Serikat (AS) masih berupaya mendorong proses perdamaian antara Israel dan Lebanon. Beberapa hari sebelumnya, perwakilan pertahanan kedua negara dipertemukan di Washington untuk membahas rencana perdamaian yang dimediasi AS, termasuk isu pelucutan senjata Hizbullah.

Konflik yang terus berlangsung telah menimbulkan dampak kemanusiaan besar. Pemerintah Lebanon menyebut sedikitnya 3.370 orang tewas akibat operasi militer Israel, sementara lebih dari 1,2 juta warga terpaksa mengungsi. Di pihak Israel, pemerintah menyatakan 24 tentara dan empat warga sipil tewas, sedangkan puluhan ribu warga di wilayah utara meninggalkan tempat tinggal mereka akibat serangan roket dan drone Hizbullah.

Di tengah meningkatnya ketegangan, militer Israel mengumumkan keberhasilan merebut Kastel Beaufort yang berusia sekitar 900 tahun beserta sejumlah wilayah strategis di Lebanon selatan. Kawasan tersebut dinilai memiliki nilai strategis karena berada di dataran tinggi yang memungkinkan pengawasan terhadap sebagian besar wilayah Lebanon selatan dan Israel utara.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan pasukannya akan mempertahankan posisi tersebut sebagai bagian dari zona keamanan negaranya.

“Kampanye ini belum berakhir,” kata Katz. “Kita semua bertekad menghancurkan kekuatan Hizbullah.”

Menurut militer Israel, operasi juga berlangsung di sekitar Nabatieh yang dikenal sebagai salah satu basis utama Hizbullah. Selain itu, pasukan Israel dilaporkan bergerak lebih jauh ke arah utara dari Sungai Litani menuju Sungai Zaharani, sekitar 10 kilometer dari posisi sebelumnya.

Di sisi lain, Hizbullah disebut semakin intensif menggunakan drone bunuh diri berbiaya rendah yang sulit dideteksi sistem pertahanan udara Israel. Penggunaan teknologi tersebut dilaporkan telah menyebabkan korban di kalangan militer Israel yang bertugas di Lebanon selatan.

Ketegangan semakin meningkat setelah militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga yang tinggal di selatan Sungai Zaharani. Sumber keamanan Lebanon dan media pemerintah setempat melaporkan lebih dari 40 serangan Israel terjadi di berbagai wilayah Lebanon selatan sepanjang Minggu.

Kantor berita pemerintah Lebanon juga melaporkan sedikitnya delapan orang tewas setelah serangan udara menghantam Desa Deir El Zahrani pada Sabtu malam.

Sementara itu, pengamat politik dan profesor sosiologi di Universitas Lebanon, Talal Atrissi, menilai pengibaran bendera Israel di Kastel Beaufort memiliki pesan politik yang ditujukan kepada publik Israel untuk menunjukkan capaian militer di tengah tantangan yang ditimbulkan serangan drone Hizbullah.

Hingga kini, pemerintah Lebanon maupun Hizbullah belum mengeluarkan tanggapan resmi terkait perluasan operasi darat Israel tersebut. Namun, meningkatnya aktivitas militer di lapangan membuat berbagai pihak internasional terus mendorong langkah diplomatik guna mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah. []

Redaksi05

Bagikan:
Hotnews Internasional Perang