Bocah Hanyut di Tanjung Sengkuang Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Resmi Ditutup

Bocah Hanyut di Tanjung Sengkuang Ditemukan Meninggal, Operasi SAR Resmi Ditutup

Bagikan:

BATAM – Operasi pencarian terhadap Azzahra Ruknuddin Baibas alias Ibas (4), bocah yang hanyut di saluran drainase kawasan Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri), resmi berakhir setelah korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu (24/06/2026) pagi.

Korban ditemukan sekitar pukul 06.15 WIB di pesisir ujung Pelabuhan Pak Fendi, Tanjung Sengkuang, atau sekitar 1,9 kilometer dari lokasi awal korban dilaporkan terjatuh dan terseret arus. Penemuan tersebut dilakukan oleh seorang warga bernama Usmen (32) yang baru pulang memancing di perairan sekitar lokasi.

Saat melintas di kawasan pesisir, Usmen melihat tubuh seorang anak terdampar di bibir pantai. Temuan itu kemudian segera dilaporkan kepada petugas yang sedang melakukan operasi pencarian.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tanjungpinang melalui Komandan Pos (Danpos) Basarnas Batam, Dedius Sembiring, membenarkan penemuan korban tersebut.

“Korban ditemukan pada pukul 06.15 WIB di pesisir ujung Pelabuhan Pak Fendi Tanjung Sengkuang. Lokasi penemuan diperkirakan berjarak 1,9 kilometer dari titik awal korban dilaporkan jatuh dan hanyut,” ujar Dedius, sebagaimana dilansir Batam Pos, Rabu, (24/06/2026).

Setelah menerima laporan, tim pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR) gabungan langsung menuju lokasi untuk mengevakuasi korban. Jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Dengan ditemukannya korban, operasi pencarian resmi dihentikan dan seluruh personel yang terlibat dikembalikan ke instansi masing-masing.

Peristiwa nahas itu bermula pada Senin (22/06/2026) sekitar pukul 08.00 WIB ketika hujan deras mengguyur kawasan Tanjung Sengkuang. Korban yang saat itu bermain di sekitar parit depan rumah diduga terpeleset hingga jatuh ke dalam drainase dan terseret arus deras menuju gorong-gorong.

Usai kejadian, keluarga bersama warga setempat sempat melakukan pencarian secara mandiri. Namun derasnya arus air serta panjangnya saluran drainase membuat korban belum berhasil ditemukan.

Pada hari kedua pencarian, tim SAR gabungan memperluas penyisiran di sejumlah titik yang diduga menjadi jalur hanyut korban. Pencarian dilakukan secara manual di area drainase dan gorong-gorong saat kondisi air surut, sementara saat air pasang operasi diperluas ke wilayah laut menggunakan perahu karet.

Operasi tersebut melibatkan Pos SAR Batam, Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) Kepolisian Daerah (Polda) Kepulauan Riau (Kepri), Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Kepolisian Resor Kota (Polresta) Barelang, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) Batam, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batam, Taruna Siaga Bencana (Tagana) Batam, serta masyarakat setempat.

Berbagai peralatan pendukung turut digunakan, mulai dari perahu karet, alat pendeteksi bawah air AquaEye, perangkat komunikasi, hingga perlengkapan evakuasi untuk mempercepat proses pencarian.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi orang tua dan masyarakat agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat hujan deras dan debit air meningkat. Saluran drainase maupun gorong-gorong yang terlihat aman dapat berubah menjadi area berbahaya ketika arus air mengalir dengan kuat. []

Redaksi05

Bagikan:
Berita Daerah Hotnews Peristiwa