Prosesi Bepelas malam kedua Erau Adat Kutai 2026 menjadi momentum keterlibatan Pemkab Kukar dalam menjaga keberlanjutan tradisi dan warisan budaya Kutai bagi generasi mendatang.
TENGGARONG – Keterlibatan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) dalam prosesi Bepelas malam kedua Erau Adat Kutai 2026 menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan tradisi budaya Kutai yang diwariskan lintas generasi.
Prosesi ritual tersebut berlangsung khidmat di ruang pertemuan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau Museum Mulawarman, Tenggarong, Senin malam (21/9/2026). Sejumlah pejabat Pemkab Kukar turut mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi bagian penting dalam Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 tersebut, sebagaimana diberitakan Prokom, Selasa, (22/09/2026).
Prosesi Bepelas dipimpin Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Aji Sultan Muhammad Arifin. Rangkaian ritual ditandai dengan dua kali dentuman meriam dari halaman keraton sebelum Sultan menuju Tiang Ayu.
Dalam tradisi tersebut, Bepelas memiliki fungsi sebagai ritual pembersihan diri, penguatan mental spiritual pemimpin, serta doa tolak bala bagi negeri. Pelaksanaannya mencakup sejumlah tahapan adat, antara lain pembacaan mantra oleh dewa atau pawang adat, persembahan Tari Dewa, Dewa Memanah, Ganjur Laki, Kanjar Bini, dan Kanjar Laki, prosesi meniti Tapak Leman, hingga menginjak pusaka Gong Raden Galuh yang kemudian dilanjutkan pelas oleh Dewa Belian.
Kehadiran unsur Pemkab Kukar terlihat dari sejumlah pejabat, di antaranya Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah (Setda) Kukar Akhmad Taufik Hidayat, Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kukar Rendra Abadi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar M. Ridha Darmawan, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pariwisata Kukar Awang Agus Darmawan, serta Kepala Bagian (Kabag) Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Kukar Fathul Alamin.
Keterlibatan pejabat daerah tersebut juga diwarnai pengalaman Taufik yang ikut menarikan Tari Kanjar Laki bersama kerabat kesultanan. Menurutnya, keterlibatan secara langsung membuat nilai budaya yang diwariskan dapat dirasakan sekaligus dipahami sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.
“Alhamdulillah malam ini merasakan juga bagaimana situasi adat budaya ini bisa kita nikmati, karena ini bagian dari pada adat budaya yang harus kita jaga dan terus dilestarikan untuk anak cucu kita,” ujar Taufik.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas kelancaran ritual Bepelas malam kedua dan berharap seluruh rangkaian Erau hingga penutupan dapat berlangsung aman serta sukses.
Pelaksanaan Bepelas menjadi salah satu bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai 2026 yang mempertemukan unsur pemerintahan dan kesultanan dalam pelestarian tradisi. Keberlanjutan kegiatan tersebut diharapkan dapat menjaga nilai-nilai budaya Kutai agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. []
Redaksi08.

