Serangan kelompok bersenjata di komunitas Binnari, Negara Bagian Taraba, Nigeria, menewaskan puluhan orang menurut laporan awal yang berbeda dan memicu desakan penyelidikan serta penguatan perlindungan warga.
TARABA – Perbedaan data jumlah korban tewas menjadi sorotan setelah serangan kelompok bersenjata menghantam komunitas Binnari, Negara Bagian Taraba, Nigeria, pada akhir pekan. Pemerintah Nigeria melaporkan 25 orang meninggal dunia, sedangkan Amnesty International menyebut jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai lebih dari 40 orang. Perbedaan angka tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Serangan berlangsung sejak Jumat (23/10/2026) malam hingga Sabtu (24/10/2026) pagi di wilayah pemerintahan daerah Karim-Lamido. Sekelompok orang bersenjata dilaporkan memasuki permukiman dan melepaskan tembakan ke arah warga.
Keterangan sejumlah saksi kepada Anadolu menyebut para pelaku datang menggunakan sepeda motor, kemudian menyerang penduduk dan menjarah berbagai barang milik warga. Barang yang dilaporkan dirampas meliputi persediaan makanan, uang tunai, dan sepeda motor.
“Rumah-rumah dan toko-toko juga dibakar, memaksa mereka yang selamat untuk melarikan diri ke komunitas di wilayah sekitar,” ujar saksi mata, sebagaimana dikutip Anadolu, Senin (26/10/2026).
Pembakaran rumah dan toko membuat warga yang selamat terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka dan mencari perlindungan di komunitas sekitar. Serangan tersebut kembali menyoroti kerentanan penduduk pedesaan di Taraba terhadap kekerasan kelompok bersenjata.
Gubernur Negara Bagian Taraba Agbu Kefas mengutuk pembunuhan tersebut pada Minggu (25/10/2026). Ia mendesak aparat keamanan meningkatkan perlindungan bagi warga serta menangkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan itu.
Di tengah tuntutan penanganan keamanan, tim kampanye pemilihan ulang Kefas memperingatkan para politikus agar tidak menjadikan tragedi tersebut sebagai bahan politisasi. Peringatan itu muncul setelah pemerintah negara bagian mendapat kritik terkait penanganan persoalan keamanan.
Sementara itu, Amnesty International mendesak penyelidikan yang imparsial untuk mengungkap pelaku dan memastikan pertanggungjawaban hukum. Organisasi tersebut juga meminta perlindungan lebih kuat bagi masyarakat yang berisiko menjadi sasaran serangan lanjutan.
Perbedaan laporan jumlah korban menunjukkan perlunya verifikasi menyeluruh agar skala tragedi dapat dipastikan. Penyelidikan yang transparan, perlindungan terhadap warga yang mengungsi, serta langkah pencegahan yang efektif menjadi penting untuk mengurangi risiko kekerasan serupa di komunitas pedesaan Nigeria. []
Reeaksi 03

