Polisi mengamankan 17 pelajar setelah tawuran yang diduga direncanakan melalui Instagram di Citra Raya, Tangerang, dengan penggunaan senjata tajam dan bom molotov serta satu korban luka ringan.
TANGERANG – Komunikasi melalui media sosial diduga menjadi awal tawuran yang melibatkan 17 pelajar di kawasan Citra Raya, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Senin (26/10/2026) malam. Polisi mengamankan belasan pelajar tersebut setelah menerima laporan warga dan petugas keamanan, sementara seorang pelajar dilaporkan mengalami luka ringan di kepala.
Kapolsek Panongan, Irruandy Aritonang, mengatakan para pelajar dari sejumlah sekolah berbeda yang berada di luar Kabupaten Tangerang itu diduga telah membuat janji untuk bertemu dan melakukan tawuran melalui Instagram.
“Jadi komunikasi awal dulu di Instagram, bikin janjian tawuran di Citra Raya. Kemudian kami menerima informasi dari warga dan security adanya kegiatan tersebut, setelah mendatangi TKP kami berhasil mengamankan 17 orang pelajar yang terlibat,” ujarnya.
Petugas kepolisian mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) setelah memperoleh informasi dari masyarakat dan petugas keamanan setempat. Dalam insiden tersebut, sejumlah pelajar terlihat membawa senjata tajam dan menggunakan bom molotov.
Aksi itu terekam dalam video amatir yang beredar. Rekaman memperlihatkan para pelajar berlarian dan saling mengejar di jalanan, disertai kobaran api di tengah jalan yang diduga berasal dari bom molotov.
Irruandy membenarkan adanya penggunaan bom molotov dalam tawuran tersebut. Berdasarkan keterangan yang diperoleh polisi, benda berbahaya itu dibeli melalui platform perdagangan elektronik (e-commerce).
“Mereka beli bom molotov secara online,” tuturnya.
Selain penggunaan benda berbahaya, bentrokan tersebut menyebabkan seorang pelajar mengalami luka ringan di bagian kepala. Polisi menyebut luka itu terjadi setelah korban dipukul menggunakan penggaris saat tawuran berlangsung.
“Yang untuk yang luka, memang ada, tapi enggak terlalu parah ya. Ada luka di kepala, luka ringanlah ya. Itu diakibatkan penggaris yang dipukul,” tuturnya.
Setelah diamankan, 17 pelajar tersebut menjalani pembinaan di Kepolisian Sektor (Polsek) Panongan pada Selasa (27/10/2026) sore. Polisi juga memanggil orang tua masing-masing untuk memperkuat pengawasan keluarga dan mencegah kejadian serupa terulang.
Dalam proses pembinaan itu, sejumlah pelajar terlihat menangis dan bersimpuh di hadapan orang tua mereka di kantor polisi.
Pelibatan keluarga menjadi bagian dari upaya pembinaan terhadap para pelajar yang terlibat. Polisi berharap pengawasan orang tua dan perhatian terhadap pergaulan anak dapat membantu mencegah tawuran, terutama yang diawali melalui komunikasi di media sosial.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap interaksi digital remaja serta perlunya peran bersama keluarga, sekolah, masyarakat, dan kepolisian untuk mencegah kekerasan antarpelajar. []
Redaksi 1

