Iran menyatakan bersedia membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi dengan Amerika Serikat dalam dua hari jika Washington mengakhiri blokade maritim dan memenuhi tuntutan Teheran.
TEHERAN – Iran menawarkan percepatan penyelesaian ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) melalui kemungkinan membuka kembali Selat Hormuz dan memulai negosiasi diplomatik dalam waktu dua hari. Namun, langkah tersebut bergantung pada kesediaan Washington memenuhi tuntutan Teheran, termasuk mengakhiri blokade maritim terhadap Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Baghaei, menyampaikan sinyal tersebut dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (2/11/2026). Ia menegaskan, pembukaan kembali jalur strategis itu dan dimulainya perundingan hanya dapat dilakukan apabila tuntutan Iran dipenuhi.
“Kami telah mengumumkan bahwa jika tuntutan Iran dipenuhi, akan ada kemungkinan untuk memulihkan keamanan di Selat Hormuz dan memulai proses negosiasi dalam waktu singkat,” ujarnya.
Baghaei menjelaskan, Iran sebelumnya mengajukan rencana penyelesaian selama tujuh hari pada September. Namun, Teheran kini memangkas waktu pelaksanaan usulan tersebut menjadi dua hari sebagai bentuk iktikad baik untuk membuka jalan bagi penyelesaian diplomatik.
Menurut dia, dasar komunikasi tidak langsung antara Iran dan AS melalui para mediator tetap mengacu pada rencana yang telah disampaikan sebelumnya. Meski demikian, kelanjutan proses tersebut sepenuhnya bergantung pada keputusan Washington.
Baghaei menyebut tuntutan Iran telah disampaikan secara jelas dan dinilai wajar oleh pemerintahnya. Ia juga menegaskan bahwa kesepakatan tidak akan tercapai selama AS belum mengakhiri blokade maritim dan memenuhi tuntutan yang dianggap sah oleh Teheran.
Iran sebelumnya menyampaikan rencana tujuh hari tersebut kepada AS melalui mediator di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York pada 22 September. Usulan itu mencakup persyaratan untuk mengakhiri perang sekaligus membuka kembali Selat Hormuz. Setelah penyampaian rencana tersebut, kedua negara dilaporkan terus bertukar pesan mengenai proposal itu.
Sebagaimana diberitakan Antara, Senin, (02/11/2026), perkembangan diplomatik tersebut berlangsung di tengah ketegangan yang meningkat setelah Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran serta sejumlah kota lain di Iran pada 28 Februari.
Iran kemudian membalas melalui serangkaian serangan rudal dan pesawat nirawak yang menyasar Israel serta sejumlah pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut. Teheran juga memperketat kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu titik penting bagi lalu lintas energi dunia.
Sikap Iran menunjukkan bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak hanya berkaitan dengan pengaturan keamanan pelayaran, tetapi juga menjadi bagian dari proses negosiasi yang lebih luas. Kepastian langkah berikutnya kini bergantung pada respons Washington terhadap persyaratan Teheran, sementara ketegangan kedua negara masih menyisakan risiko eskalasi. []
Redaksi 01

