Aparat Gabungan Jaga Perbatasan Abak-Bombanon Usai Bentrokan

Aparat Gabungan Jaga Perbatasan Abak-Bombanon Usai Bentrokan

Bagikan:

Bentrokan warga Desa Abak dan Desa Bombanon di Kecamatan Lolayan diduga dipicu konvoi pemuda, sementara aparat gabungan mengutamakan pengamanan dan dialog untuk mencegah konflik susulan.

SULAWESI TENGAH  – Upaya mencegah bentrokan susulan antara warga Desa Abak dan Desa Bombanon di Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), menjadi fokus pengamanan aparat gabungan setelah konflik antarwarga pecah pada Minggu (01/11/2026). Selain menempatkan personel di kawasan perbatasan, aparat mengedepankan dialog dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk meredakan ketegangan serta mencegah konflik kembali terjadi.

Bentrokan berlangsung di kawasan perkebunan yang berbatasan dengan kedua desa. Warga dilaporkan saling menyerang menggunakan senjata tajam, seperti parang dan tombak, serta melempar batu. Meski situasi sempat memanas, tidak ada laporan korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.

Ketegangan diduga bermula ketika belasan pemuda dari Desa Bombanon berkonvoi menuju Desa Abak sambil berteriak-teriak. Aksi tersebut memancing reaksi warga setempat hingga berujung pada bentrokan di kawasan perkebunan perbatasan.

Merespons kejadian itu, personel gabungan dari Kepolisian Resor (Polres) Kotamobagu, Komando Distrik Militer (Kodim) 1303 Bolaang Mongondow, dan Satuan Brigade Mobil (Brimob) Batalyon B Pelopor Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara (Sulut) dikerahkan ke lokasi.

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kotamobagu Abdul Kholik bersama Komandan Distrik Militer (Dandim) 1303 Bolaang Mongondow Manashe Lomo turun langsung memimpin patroli di wilayah perbatasan Desa Abak dan Desa Bombanon. Pengamanan juga diperkuat melalui pertemuan yang melibatkan kedua pihak, kepala desa, serta Camat Lolayan.

Dalam penanganan konflik, Abdul Kholik menekankan pentingnya pendekatan persuasif dan dialogis agar masyarakat memahami dampak buruk pertikaian.

“Penanganan konflik tidak hanya mengedepankan ketegasan dalam melakukan pengamanan, tapi harus secara persuasif dan dialogis, dan langkah ini bisa memberikan pemahaman kepada masyarakat.”

Ia juga meminta warga tidak mudah terhasut oleh provokasi yang berpotensi memicu bentrokan baru.

“Kami minta agar masyarakat lebih menahan diri dan tidak mudah terprovokasi, sebab setiap pertikaian tidak ada untung melainkan kerugian baik diri sendiri maupun untuk orang banyak.”

Aparat keamanan tetap disiagakan hingga setidaknya Senin (02/11/2026) untuk menjaga situasi di wilayah perbatasan tetap terkendali. Langkah tersebut dilakukan guna mencegah munculnya kembali aksi saling serang setelah bentrokan mereda.

Konflik antara Desa Abak dan Desa Bombanon bukan satu-satunya pertikaian antarwilayah yang pernah terjadi di Bolmong. Sebelumnya, bentrokan antara warga Desa Tonom dan Desa Ibolian dilaporkan berlangsung sejak akhir Januari 2026 dan baru mencapai kesepakatan damai pada September 2026.

Pengalaman konflik sebelumnya memperlihatkan bahwa penyelesaian perselisihan antarwarga membutuhkan proses dan komitmen bersama. Karena itu, dialog yang melibatkan tokoh masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah kecamatan diharapkan tidak berhenti pada saat situasi mereda, tetapi berlanjut menjadi upaya menjaga hubungan warga dan mencegah bentrokan serupa terulang. []

Redaksi 01

Bagikan:
Berita Daerah Konflik